Di Suku Tengger, cara memakai sarung bisa menunjukan status seseorang.

ORANG bilang, traveling itu menjadi lebih bermakna ketika Anda bisa mendapatkan sesuatu yang bisa memperkaya jiwa dan memperluas wawasan. Traveling tanpa mengenali adat dan budaya sudah pasti tidak akan lengkap. Menyelami kearifan lokal dan memahami adat budaya masyarakat setempat, akan melengkapi setiap petualangan dan perjalanan.

Ketika Anda melakukan perjalanan ke Bromo, itulah saat tepat untuk lebih memahami budaya dan kearifan lokal Suku Tengger yang dalam keseharian tidak bisa lepas dari pemakaian sarung. Pagi, siang, malam, bahkan ketika bepergian dengan mobil mewah pun, mereka jarang melepas sarung. Apa sebenarnya makna sarung bagi Suku Tengger? Selain untuk melindungi diri dari udara dingin, sarung ternyata juga menjadi bahasa isyarat yang bisa menjelaskan status seseorang.

Berikut beberapa makna pemakaian sarung di Suku Tengger yang didapat ketika mengikuti program Promosi Pariwisata Mancanegara pada Media Nasional yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata di Malang. Simak juga kearifan lokal Suku Tengger menyangkut kebiasaan bertamu yang disebut juga dengan gegeni. Silakan baca juga artikel Tiga Cara Cantik Menikmati Bromo.

MAKNA PEMAKAIAN SARUNG
Pemakaian sarung menjadi salah satu ciri Suku Tengger. Saat mereka berjalan, bertamu, bahkan ketika menaiki mobil mewah, penggunaan sarung tak pernah tertinggal. Bukan hanya sebagai penahan dingin, tetapi di balik pemakaian sarung itu, ternyata ada makna dan komunikasi tersembunyi. Berikut arti beberapa cara pemakaian sarung pada perempuan dan lelaki.

PEREMPUAN

 

4. Sarung Tengger (4 POTRAIT)

Foto-foto: Sendy Aditya Saputro

 

 

Jika memakai sarung dengan membuat simpul di pundak bagian kanan dan membiarkan sarung tergerai sebagian ke sisi depan, maka menandakan gadis tersebut telah beranjak dewasa dan masih belum terikat dalam perkawinan.

 

 

4. Sarung Tengger (5 POTRAIT)
Wanita yang mengenakan sarung dengan membuat simpul di belakang leher dan tergerai ke bagian depan, biasanya dilakukan oleh mereka yang sudah cukup umur tapi belum menikah.

 

 

4. Sarung Tengger (6 POTRAIT)

Perempuan yang mengenakan simpul di pundak bagian kiri dan tergerai sebagian ke sisi depan memiliki arti wanita tersebut sudah tidak memiliki suami (janda).

 

 

 

4. Sarung Tengger (2 POTRAIT)(1)

Jika sarung dibuat simpul di tengah depan dan dibiarkan tergerai di bagian belakang, menandakan bahwa wanita tersebut telah berkeluarga.

 

 

LAKI-LAKI

4. Sarung Tengger (7 POTRAIT)(1)

Bila sarung dikenakan dengan cara dislempang, biasanya digunakan sebagai pelengkap biusana, menambah gaya bagi seorang pria.

 

 

 

4. Sarung Tengger (9 POTRAIT)

Jika menggunakan sarung dengan cara menutup wajah yang kerap disebut juga dengan istilah ‘sarung kudung’, biasanya dipakai dengan tujuan menahan dingin dan debu. Biasanya dikenakan ketika mengendari motor.

 

 

 

4. Sarung Tengger (12 POTRAIT)

Sarung juga bisa digunakan sebagai gembolan atau wadah barang.

 

 

 

4. Sarung Tengger (10 POTRAIT)

Pria yang mengenakan sarung dengan cara mengikat di pinggang atau disebut juga dengan nama sembong, biasanya untuk pelengkap berpakaian ketika bekerja di ladang.

 

 

 

4. Sarung Tengger (14 POTRAIT)

Sarung juga digunakan sebagai penutup kepala dan biasa disebut udengan. Fungsinya untuk melindungi kepala.

 

 

 

4. Sarung Tengger (11 POTRAIT)

Pria juga menggunakan sarung seperti kerudung (kudungan) untuk melindungi dari udara dingin.

 

 

 

4. Sarung Tengger (8 POTRAIT)

Seringkali sarung juga digunakan dengan cara melingkar di leher atau disebut juga dengan istilah ‘simpul wolu’. Biasanya digunakan untuk penghangat leher bagian belakang.

 

 

4. Sarung Tengger (13 POTRAIT)

Sarung yang dikenakan dengan cara menyimpulkan di bagian depan dan membiarkan sarung tergerai dibagian belakang disebut lampun.Gunanya untuk menghangatkan punggung bagian belakang dari udara dingin atau pun sebagai pengganjal pundak agar tidak sakit ketika harus membawa barang.

 

GEGENI

IMG_6218

Foto: Lintang Rowe

GEGENI adalah cara masyarakat Suku Tengger di Desa Argosari Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur untuk menyambut dan menghormati tamu. Masyarakat di desa itu memiliki kebiasaan bertamu dengan langsung mendatangi bagian dapur. Di tempat itu, mereka berbincang santai hingga serius, sembari menyeruput kopi atau teh, menikmati makanan kecil, hingga makanan berat. Dingin udara di kawasan itu terusir kehangatan yang memancar dari bara kayu bakar yang sekaligus menjadi tempat memasak (kompor tradisional – tungku). Meski memiliki ruang tamu, namun masyarakat Tengger di desa tersebut lebih senang geguyub dengan suasana kekeluargaan di dapur. (D-1)