INI perang persahabatan yang menyimpan banyak kisah, tentang nilai kehidupan, adat-istiadat, cinta, dan sportivitas.
Pekik kegembiraan berkumandang begitu lembing atau batang kayu yang menjadi senjata lempar, mengenai tubuh lawan yang sama-sama berada di atas kuda. Riuh teriakan membahana, diiringi tarian spontan dan hentakan kaki.

Pasola menjadi salah satu atraksi adat yang bukan hanya digemari masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan nusantara dan mancanegara. Kuda-kuda berhias gagah, begitu juga dengan penunggangnya. Rato (pemimpin adat) akan memberi tanda dimulainya Pasola. Kuda dan penunggangnya maju menggoda lawan, berkejaran, berhadapan, dan akhirnya melepas senjata. Tak ada dendam meski batang kayu mengenai tubuh dan membuat penunggangnya terjatuh. Ini adalah perang persahabatan, pesta rakyat yang dilakukan setiap tahun di bulan Februari dan Maret, dengan tanggal yang tak bisa dipastikan. Para tetua adatlah yang nanti akan berdoa dan berkomunikasi dengan leluhur untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk menggelar Pasola.

Atraksi itu digelar setelah pelaksanaan nyale, penangkapan cacing laut yang tiba-tiba saja datang dalam jumlah besar. Tanggal penangkapan nyale pun berubah-ubah, tergantung keputusan tetua adat setelah berdoa dan berkomunikasi dengan leluhur.

Asal mula Pasola masih menjadi misteri. Namun dari penggalan-penggakan kisah tetua adat di Kodi, bisa dirangkai menjadi sebuah cerita. Konon, pada zaman dulu hidup putri cantik jelita bernama Mbiri Kyoni yang hidup sederhana bersama ibunya Kenggar. Kecantikannya mengundang banyak pemuda. Mereka datang untuk mempersunting. Tidak ada yang mau mengalah, meski harus berperang sekali pun.

Untuk menghindari pertumpahan darah, akhirnya Mbiri Kyoni memilih jalan pintas, bunuh diri. Setelah dikuburkan, di atas kuburnya tumbuh tanaman yang kemudian disebut padi yang kemudian menjadi sumber kehidupan. Melalui mimpi ibunya, Mbiri Kyorni berpesan agar masyarakat merawat tanaman tersebut.

Ketika panen tiba, tepatnya di bulan purnama, muncul putri cantik jelita bernama Inya Nale di Pantai Kodi. Kecantikannya membuat para lelaki dewasa berniat mempersunting. Mereka rela mati dan bertempur. Untuk menjaga kedamaian di Tanah Kodi, Inya Nale mengatakan akan kembali ke tanah asalnya dan datang kembali ke perairan 30 hari kemudian. Dia juga berpesan pada waktu yang sama akan datang setiap tahun.

Inya Nale memenuhi janjinya. Di waktu yang sudah ditetapkan, di atas permukaan air laut yang tenang tanpa gelombang, terhampar mahluk hidup yang menyerupai cacing laut yang diyakini sebagai penjelmaan Inya Nale. Masyarakat Kodi percaya, Inya Nale yang bermetamorfosa menjadi Nale adalah dewi utusan Sang Pencipta (Mawolo Marawi), yang membawa berkat kesuburan, kemakmuran, dan kejayaan masa panen.

Masyarakat Kodi sangat menghormati peristiwa Mbiri Kyoni dan Inya Nale yang harus dikenang secara religius melalui suatu prosesi adat dalam bentuk tradisi Ritus Nale. Sebagai ucapan syukur, dilaksanakan Pasola, simulasi perdamaian massal sebagai bentuk ucapan syukur karena terbebaskan dari perseteruan dan peperangan. Pasola juga bentuk ucapan syukur atas berkat hasil panen dan ternak peliharaan. (D-1)