NAMANYA Ranting Manja. Tinggal di Pulau Kabalutan, Kepulauan Togean. Ketika ditanya berapa usianya? Dia bilang tidak tahu. Masyarakat bilang usianya sekitar 60 tahun. Hidupnya terlihat damai. Dalam keseharian, dia bercengrama bersama keluarga, tetangga, dan berkeliaran mencari kayu dan ikan. Selain itu, Ranting Manja menyalurkan keahliannya membuat kacamata selam dari kayu.

Dari kayu? Itu yang dia lakukan. Dalam satu hari biasanya dia menghasilkan satu kacamata kayu. Jika mau, dia bisa membuat maksimal dua buah. Dia menggunakan kayu khusus, menatah, dan mengukir, hingga bentuknya sama persis dengan kacamata selam. Kemudian dipasang kaca, dan tertakhir disambung dengan kawat dan karet tebal. Hasilnya mengagumkan. Kencang, tak tembus air, dan tak kalah dengan kacamata selam hasil pabrikan.

Ke mana kacamata itu dijual? Biasanya dia menjual saat hari pasar di Pulau Kabalutan yang jatuh setiap Selasa. Setiap pulau di Kepulauan Togean punya hari pasar sendiri. Saat itu, pedagang dari berbagai pulau berdatangan untuk menjual sekaligus berbelanja. Saat itulah Ranting Manja menjajakan kacamata kayu hasil pahatannya. Pembelinya tak melulu penduduk lokal Suku Bajo, tetapi juga wisatawan mancanegara yang mengagumi hasil karyanya. Satu kacamata dia jual seharga Rp50 ribu untuk wisatawan lokal dan Rp100 ribu untuk wisatawan asing.

Siang itu, ketika kami datang, Ranting Manja tengah bersantai. Dia hanya memiliki satu kacamata. Ketika tahu akan dibeli, dia segera menyelesaikan hasil karyanya, menatah dan memasang karet pengikat. Saya beruntung bisa mendapat hasil karya Ranting Manja. Beberapa teman lain gigit jari karena tak ada stok.

Sembari memberi sentuhan akhir, Ranting Manja berkisah, saat muda berpuluh tahun lalu, dia mendapat keahlian membuat kacamata selam kayu dari masyarakat Suku Bajo Torosiaje di Gorontalo. Masyarakat di sana, katanya, meniru kacamata selam yang dibawa orang-orang asing. Jadilah keahlian masa mudanya itu, menjadi salah satu mata pencahariannya hingga kini.

Pulau Janda
Pulau Kabalutan di Kepulauan Togean dikenal juga dengan nama Pulau Janda. Konon, nama itu diperoleh karena banyak perempuan yang menjadi janda. Mereka menikah dengan para pelaut yang datang, tetapi menolak ketika diajak ke tanah kelahiran pria yang dinikahi. Adat juga melarang pria dari luar, membawa istrinya ke luar dari pulau tersebut. Mereka lebih memilih menjadi janda dari pada meninggalkan pulau kelahirannya. Dari situlah muncul nama Pulau Janda, nama lain dari Kabalutan. (D-1)