Select Page

Pemandu Gunung sekarang memiliki sebuah wadah berbadan hukum untuk berkumpul dan bertukar-pikiran. Diharapkan APGI dapat meningkatkan kualitas pemandu gunung Indonesia.

MENDAKI gunung kini bukan lagi hanya dilakukan oleh orang-orang yang tergabung dalam organisasi pecinta alam, tetapi juga oleh masyarakat umum, termasuk wisatawan. Kondisi tersebut memunculkan perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa pemandu wisata, hingga menjadi sebuah profesi. Namun, perkembangan tersebut belum terwadahi dengan baik.

Itu sebabnya, para pecinta alam merasa perlu mendirikan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI). Merupakan organisasi berbadan hukum yang mewadahi profesi pemandu gunung di Indonesia. “Keanggotaannya bersifat perseorangan, profesional, non politik, dan terbuka,” papar Ronie Ibrahim, Ketua APGI 2016-2019.

Dibentuknya Asosiasi Pemandu Gunung

Pembentukan asosiasi yang dideklarasikan 15 Januari 2016 di Jakarta itu, terang Ronnie, juga dimaksudkan untuk lebih menjaga keamanan, keselamatan, dan kenyamanan wisatawan yang kini kian tertarik dengan pendakian. Selain itu juga dimaksudkan agar sumber daya manusia siap menjalani persaingan di era masyarakat ekonomi Asean (MEA).

Tujuan itu juga sesuai dengan peraturan pemerintah terkait pramuwisata Indonesia, yaitu Peraturan Menteri Pariwisata No 13 Tahun 2015 yang menyatakan bahwa jasa usaha pramuwisata wajib memenuhi unsur-unsur penyediaan dan pelayanan jasa, salah satunya wajib memiliki sertifikat. “Berkaitan dengan hal tersebut, APGI akan melaksanakan berbagai kegiatan, antara lain pendidikan dan pelatihan, sertifikasi, penelitian dan pengembangan, konsultasi, advokasi, dan masih banyak lagi,” ujar Ronie. (D-1)