Select Page

KAWASAN Budaya Jatayu menjadi saksi harmoni keberagaman yang ada di Kota Batik Pekalongan. Kawasan yang kini tengah berbenah itu menarik dijelajahi. Wisatawan bisa menyaksikan langsung keberagaman dan akulturasi budaya. Di kawasan itu juga bisa dijumpai Kampung Arab, pecinan, juga klenteng dan gereja yang letaknya berdampingan.

Jetayu juga menjadi saksi sejarah yang ditandai lewat peninggalan bangunan tua yang sampai sekarang masih terjaga dan berfungsi, termasuk Jembatan Loji yang mengantar wisatawan di malam hari untuk menikmati siraman lampu Pekalongan. Berikut beberapa spot menarik di Kawasan Jetayu.

IMG_4702

Museum Batik
Jl Jetayu No 3 Pekalongan
Telp: (0285) 431698
Jam buka: 08.00 – 15.00
Tiket masuk umum Rp5.000
Mancanegara Rp10.000

Museum Batik Pekalongan bisa menjadi wisata edukasi yang sangat bermanfaat. Dikemas cukup interaktif, dilengkapi dengan pemandu dan juga praktik membuat batik di bagian belakang museum. Anda bisa melihat dan mengenal berbagai jenis batik dan pengaruh budaya China, Arab, serta Eropa yang terpampang pada motif. Terdapat juga motif batik yang mengungkapkan cerita, di antaranya tentang kisah seni Sintren. Di bagian belakang gedung, pengunjung bisa melakukan praktik membuat batik. Jika ingin membuat saputangan hingga proses pewarnaan selesai, dikenai harga Rp20 ribu, sedangkan taplak meja Rp50 ribu.

IMG_4494
Museum Tosan Aji
Jl Jetayu No 5, Kota Pekalongan
Telp: (0285) 421085

Museum Tosan Aji menampilkan berbagai jenis senjata dari berabad-abad lalu (terbanyak keris). Meski masih ditampilkan seadanya, namun benda-benda yang terpajang memiliki kisah yang menarik untuk disimak. Ada pemandu yang bisa membantu bercerita tentang sejarah keris dan juga asal-usul senjata lain yang ada di dalam museum.

IMG_4771Pabrik Limun Oriental
Jl Rajawali Timur N 10, Panjang Wetan, Pekalongan
Jam buka: 09.00 – 16.00 (Jumat dan hari besar libur)

Ini tempat yang harus didatangi. Pabrik Limun Oriental berproduksi sejak 1920 dan menjadi minuman yang digemari pada masanya, terutama oleh orang-orang Belanda, Sampai saat ini, meski produksinya tidak lagi sebanyak dulu, namun tetap bertahan dengan penggemar dari berbagai kalangan, tua dan muda.

Lokasi pabrik ada di Kawasan Budaya Jetayu, menempati bangunan tua yang asri. Kini bagian ruang tamu pabrik yang menyatu dengan rumah pemiliknya dijadikan kafe kecil sederhana dengan meja kursi kuno.

Setelah berkeliling kawasan Jetayu, duduk santai menikmati limun dingin aneka rasa di Oriental sangat menyenangkan. Limun oriental didirikan oleh keluarga Njoo Giok Lien, jauh sebelum minuman sejenis yang kini mendunia (Coca Cola) berdiri.

IMG_4786Kampung Arab
Sepanjang Jalan Surabaya- Semarang, Pekalongan

Kampung Arab memiliki sejarah panjang. Lokasinya bersebelahan dengan Pecinan, menjadi salah satu bukti harmonisasi perbedaan di Kota Batik. Kampung Arab menempati tiga kelurahan, yakni Sugihwaras, Klego, dan Poncol. Mulai berdiri sekitar abad 18, ketika Habib Husein Bin salim Alatas dari Yaman bersamaan dengan masuknya kolonial. Ketika datang, dia membangun Masjid Wakaf (sampai sekarang bangunan masjid masih terjaga dan digunakan) dan sejak saat itu mulai berkembanglah kawasan Kampung Arab.

Perdagangan di daerah itu berlahan tapi pasti maju pesat. Bahkan sekitar 1950-an, Kampung Arab, terutama Kelurahan Sugihwaras, dipenuhi pedagang-pedagang batik, kain mori, dll. “Saat itu Kampung Arab menjadi penentu harga kain mori nasional,” papar Arief Dirhamsyah dari Heritage Pekalongan.

Namun, seiring perkembangan zaman, masa keemasan itu berlahan memudar. Kini kawasan Kampung Arab tak seramai dulu. Rumah-rumah tua masih berdiri dan dihuni, beberapa membuka toko batik, keperluan haji, dan wewangian tradisional perpaduan budaya Jawa dan Arab. Di kawasan itu juga ada RM Puas, tepatnya di Jalan Surabaya, rumah makan kuno yang menjual berbagai menu khas Arab dan juga Pekalongan.

IMG_4775

Pecinan
Jalan Sultan Hassanudin, Sultan Agung, Manggis, dan Salak, Pekalongan

Jangan membayangkan toko-toko di Kawasan Pecinan, Pekalongan. Di tempat itu, Pecinan lebih mirip perumahan kuno dengan pintu-pintu kayu yang dibuka setengah bagian atas. Beberapa di antaranya menunjukan arsitektur campuran khas peranakan dengan sentuhan Eropa. Berjalan di kawasan ini akan menyenangkan, terutama bagi para pecinta fotografi, budaya, sejarah, dan arsitektur.

IMG_4818

Klenteng Pho An Thian
Jl Blimbing No 5, Pekalongan

Klenteng Pho An Thian berdiri sekitar 1882. Letaknya bersebelahan dengan Gereja Katolik Santo Petrus. Bagian depan masih memertahankan bangunan lama, termasuk ukiran bergambar di tiang dan dinding. Di bagian belakang tidak kalah indah, meski tergolong baru dan beberapa ukiran di antaranya merupakan replika bagian depan. Wisatawan bisa masuk untuk melihat-lihat. Petugas klenteng sudah sangat terbuka, meski tentu kita tetap harus menjaga aturan yang berlaku, termasuk melepas alas kaki.
Gereja Santo Petrus
Jl Blimbing No 1, Pekalongan
Gereja Santo Petrus menjadi salah satu kekayaan bangunan tua di Kawasan Jetayu, Pekalongan. Dibangun pada 1930-an dengan arsitektur bergaya Eropa yang antara lain ditandai dengan pilar-pilar besar dan atas tinggi. (D-1)