Kisah cinta antara Sunan Gunung Jati dengan tuan putri dari negeri Tiongkok yang diabadikan di Makam Sunan Gunung Jati menjadi bukti akulturasi budaya dan cinta Putri Ong Tien yang menakjubkan.

INDAH! Sepanjang mata memandang terlihat dinding berlabur putih berhias keramik-keramik China kuno beraneka warna. Memberi kesan atraktif dan memanjakan mata.

Akulturasi budaya begitu terasa ketika memasuki areal makam Sunan Gunungjati yang terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Arsitektur dan interior bangunan merupakan gabungan dari nilai lokal (Jawa) dan pengaruh dari Arab, China, dan Timur Tengah. Atap bangunan berbentuk limasan khas Jawa, interior dinding dipenuhi hiasan keramik kuno  Tiongkok berpadu dengan kaligrafi khas Timur Tengah.

Di salah satu bagian depan bangunan itu bersemayam Putri Ong Tien, salah satu istri Sunan Gunung Jati yang mengejar cinta sejati hingga ke Nusantara. Banyak kisah berkembang, semuanya menceritakan tentang karisma Sunan Gunung Jati, dan bagaimana perjuangan Putri Ong Tien mengejar cinta sejatinya.

Putri Ong Tien

 Putri Ong Tien

Alkisah, pada 1479, Syarif Hudayatullah alias  Sunan Gunung Jati pergi ke Tiongkok untuk menyebarkan agama Islam. Keberhasilannya membuat heboh dan beberapa pihak menjadi tidak senang. Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming pun merasakan hal yang sama. Dia pun mengundang Sunan Gunung Jati untuk datang ke perjamuan makan dengan niatan mempermalukan.

Alasan Cirebon Berkesan

Di perjamuan itulah Sunan Gunung Jati bertemu Putri Ong Tien yang dikenal cantik jelita. Ketika itu, kaisar memanggil sang putri dan meminta Sunan Gunung Jati menebak dan menyembuhkan penyakit yang membuat perutnya membesar. Dikisahkan, Sunan Gunung Jati mengatakan bahwa Putri Ong sedang hamil, padahal saat itu perutnya tengah diganjal dengan bokor kuning. Tidak dinyana, Putri Ong Tien memang tengah hamil.

Setelah Sunan Gunung Jati diusir dari China, kesehatan Putri Ong Tien terus merosot. Pada sang ayah dia menyatakan jatuh cinta dengan Sunan Gunung Jati dan meminta izin untuk menyusul ke Nusantara.

Melihat kondisi anaknya, sang ayah pun mengizinkan. Dia memerintahkan laksamana dan pasukannya mengantar sang putri. Saat itu, Putri Ong Tien berangkat dengan jumlah rombongan tujuh kapal yang membawa berbagai macam hadiah untuk Sunan Gunung Jati, termasuk berbagai macam jenis keramik dan surat dari kaisar yang menyerahkan putrinya ke tangan Sunan Gunung Jati.

Pada 1481, Sunan Gunung Jati menikahi Putri Ong. Sayang umur sang putri tidak panjang. Dia meninggal pada usia 23, dan kini makamnya berada dalam satu kompleks dengan suaminya, berdekatan dengan pintu pertama dari sembilan pintu menuju makam Sunan Gunung Jati.

Keberadaan Putri Ong Tien yang mendapat gelar Nyi Mas Ratu Rara Sumanding bisa dirasakan dari beragam hiasan keramik yang menempel di dinding bangunan makam, juga hiasan guci-guci kuno dengan berbagai ukuran.