Select Page

 

eclipse

sumber: pixabay.com

SEBAGAI negara maritim, potensi wisata bahari Indonesia jelas sangatlah besar. Sayang, hingga kini potensi wisata bahari belum dioptimalkan. Padahal, negeri ini memiliki titik-titik objek wisata yang sudah terkenal. Sebut saja, misalnya, Raja Ampat di Papua Barat, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, dan Kepulauan Komodo di Nusa Tenggara Timur.

Celakanya, penikmat wisata laut itu sekitar 98% adalah warga asing, sisanya baru berasal dari Indonesia. Lebih celaka lagi, hingga sekarang Indonesia belum juga memiliki satu pun kapal pesiar. Yang ada baru sekelas kapal tradisional pinisi, Alila Purnama, yang harga per malamnya dibandrol mulai Rp146 juta. Itupun, hanya bisa memuat 10 orang.

Memang, membuat kapal pesiar (cruise) tidaklah murah. Harganya bisa mencapai ratusan miliar rupiah, hingga triliunan rupiah. Ambil contoh yacht milik orang kaya asal Rusia, Roman Abramovic, yang diberi nama Eclipse. Harganya mencapai Rp10,9 triliun.

Sampai kini, harga kapal pesiar termahal dipegang oleh X Forces 145, yakni Rp13 triliun. Meski masih dalam tahap pembangunan dan diharapkan selesai minimal pada 2018, yacht yang panjangnya 1,5 kali panjang lapangan bola itu, tentu tergolong mewah. Boleh jadi, yacht tersebut bukan hanya sebagai hotel berbintang terapung, melainkan layaknya city terapung.

Kian Populer

 Wisatawan lokal yang memilih kapal pesiar sebagai pilihan berlibur maupun dalam rangka  bisnis terus memperlihatkan penaikan. Angka penjualan melonjak hingga 15% dari paket wisata kapal pesiar yang ditawarkan.

Tak hanya itu. Kunjungan cruise ke Indonesia juga meningkat. Pada 2010 ada 57 kapal, 2011 ada 76 kapal, 2012 ada 92 kapal, 2013 ada 116 kapal, 2014 ada 126 kapal, 2015 ada 300an kapal, dan 2016 ditargetkan mencapai 400 kapal.

Peningkatkan jumlah kapal pesiar ke Indonesia itu tentu saja berimbas kepada besarnya kunjungan wisatawan asing ke Tanah Air. Pada 2015, misalnya, total kunjungan wisata bahari mencapai 1,3 juta orang dan ditargetkan bisa menyentuh angka 1,8 juta orang pada 2016.

Sebagian besar kapal pesiar singgah di pelabuhan yang mempunyai hinterland wisata favorit, yakni Pelabuhan Benoa di Bali, Pelabuhan Lembar di NTB, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang di Jawa Tengah, Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo dan Tanjung Perak Surabaya di Jawa Timur.

Indonesia memang memiliki 1.240 pelabuhan, tapi belum ada pelabuhan yang dapat disandari kapal pesiar berukuran besar.  Pasalnya, infrastruktur dan fasilitas pelabuhan yang ada belum memadai. Mayoritas kedalaman di pelabuhan juga masih kurang dan antrean kapal juga masih lama.

Ambil contoh kasus di Pelabuhan Benoa, Bali. Semua kapal pesiar tidak bisa merapat dan harus berlabuh di laut lepas. Wisatawan pun harus diangkut dengan sekoci yang kapasitasnya sekitar 100-150 orang. Padahal, total wisatawan di kapal pesiar bisa mencapai ribuan orang.

Langkah-Langkah

 Pemerintah kini memang serius ingin mengembangkan wisata kapal pesiar. Soal infrastruktur, misalnya, 10 pelabuhan besar dan 70 pelabuhan menegah yang ada bakal segera diperbaiki. PT Pelindo III, sebagai contoh, telah menyiapkan dana Rp250 miliar untuk membangun marine di Pelabuhan Benoa.

Berbagai pihak terkait telah menyiapkan pelabuhan yang dapat disandari kapal pesiar besar. Selain itu, bandara internasional juga terus dikembangkan. Kepastian regulasi terkait wisata kapal pesiar juga bakal ditetapkan.

Pekerjaan rumah lainnya terkait pengembangan wisata kepal pesiar ialah menyangkut teknologi informasi dan komunikasi serta peningkatan kualitas sumber daya manusianya.

Sejumlah langkah untuk membangun wisata kapal pesiar memang telah dilakukan. Pemerintah telah menggandeng Singapura untuk membangun terminal kapal pesiar di Bali (Benoa), Sumatra Utara (Medan), Jawa Tengah (Semarang), dan Sumatra Selatan (Palembang). Diharapkan, pada akhir tahun ini, terminal khusus kapal pesiar tersebut telah siap.

Pihak PT Pelni juga tak mau ketinggalan. Mereka kini ikut memajukan pariwisata di Indonesia.

Setelah sukses menyiapkan hotel terapung selama Agenda Wisata Bahari di Raja Empat dan Wakatobi tahun lalu, PT Pelni berharap dapat menyediakan lebih banyak kapal untuk melayani wisatawan di destinasi prioritas dalam beberapa tahun ke depan.

Sedangkan pihak PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) juga telah membuka rute-rute baru, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur serta mengoperasikan pelayaran jarak jauh.

Berbagai langkah pengembangan wisata kapal pesiar itu memang harus segera dimulai sekarang. Predikat negeri bahari janganlah hanya hebat di atas kertas, tapi harus bisa diwujudkan secara nyata.