Select Page

Mereka dipersatukan dan berkarya lewat medium pertunjukan boneka.

PUPET5

KOMUNITAS yang satu ini anggotanya beragam. Mulai dari remaja hingga usia 60 tahun. Kegiatannya memainkan boneka (puppet) besar seukuran manusia untuk menghibur, menyebarkan pesan moral, dan juga pertunjukan komersil yang hasilnya untuk menyubsidi silang berbagai kegiatan sosial.

Hops Puppet & Friends, lahir pada 2006 dengan nama awal Casey Puppet. Karena terkendala persoalan teknis, pada 2014 diubah menjadi Hops Puppet & Friends. Komunitas itu lahir dari lingkup kecil, guru-guru sekolah Minggu yang merasa kesulitan mengajak anak-anak untuk duduk diam mendengarkan firman. Dari situ muncul ide untuk membuat pertunjukan dengan boneka jari. Sampai kemudian di sebuah pameran di Jakarta, mereka bertemu dengan Dave, pelatih boneka puppet dari Amerika.

PUPET4Dari perbincangan, Dave sepakat memberi pelatihan. Ketika dipraktikan di sekolah Minggu, ternyata hasilnya luar biasa. Begitu lampu dipadamkan, anak-anak duduk diam melihat pertunjukan boneka yang bisa menyala di dalam gelap. Akhirnya komunitas itu mulai mengumpulkan dana untuk membeli boneka yang harganya berkisar antara Rp1 juta hingga Rp10 juta.

Dari sekolah Minggu, pertunjukan boneka kian dikenal, sampai suatu ketika, salah satu orangtua meminta diadakan pertunjukan di panti asuhan ketika anaknya berulang tahun. “Dari situ kita mulai memahami, pertunjukan ini bisa dibawa ke luar dari sekolah Minggu. Kami pun mulai manggung menghibur di panti asuhan, panti jompo, dll. Misinya pun berubah lebih luas, bukan lagi agama tetapi lebih ke pesan moral,” papar Theresia Simon, marketing Hops Puppet & Friends yang diketuai Theresia Wiraatmadja.

Subsidi Silang
Dari kegiatan sosial, Hops Puppet & Friends, mendapat tawaran manggung di televisi. Tawaran itu menyadarkan mereka untuk menggabungkan kegiatan komersil dan sosial. Maka, komunitas itu mulai menerima pentas komersil, namun tetap mendahulukan kegiatan sosial.

Suatu ketika, ada sebuah yayasan yang meminta bantuan membangun sekolah di Desa Uetuwu, Sulawesi Tenggara. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp387 juta. Itulah pertama kali Hops Puppet & Friends membuat pertunjukan musikal komersil dengan menjual tiket. “Semula kami ragu. Sampai kemudian ada yang menyumbang Rp30 juta, jumlah yang pas untuk menyewa gedung,” papar Theresia Simon yang akrab dipanggil There.

Dalam pertunjukan itu, terang There, 30 persen kursi disediakan untuk anak panti asuhan se-Jabodetabek. Sisanya baru dijual ke masyarakat umum. “Hasil penjualan sungguh mengejutkan. Kami mendapat pemasukan Rp800 juta, sehingga bisa membangun tidak hanya satu sekolah di Desa Uetuwu, tetapi lima sekolah, di antaranya di Solo, Ungaran (Semarang), dan Malang.”
Kini, tawaran bermain komersil terus berdatangan, bahkan dari brand-brand perusahaaan besar. Namun, sebagian terpaksa ditolak karena misi komunitas tetap mendahulukan kegiatan sosial. Selain itu juga menyangkut keterbatasan tenaga. Sampai Agustus 2017, jadwal manggung Hops Puppet & Friend sudah terisi. “Maklum kami terdiri dari berbagai macam latar belakang dan sebagian besar bekerja,” jelas There.

 

Jalanan di Jakarta dan anak-anak di daerah. ‘Di Jakarta, kami menyewa gelanggang olahraga yang bisa menampung sekitar 1.000 anak. Kami juga pernah mengadakan di Cirebon, bahkan diajak manggung di sebuah pesantren di Malang,” papar There sembari menambahkan kini mereka sudah memiliki 50 boneka.

Regenerasi
Anggota komunitas Hops Puppet & Friends yang aktif sekitar 35 orang dengan rentang usia beragam, dari remaja hingga 60 tahun. Siapa pun boleh berganbung, belajar bersama memainkan puppet.

Tidak mudah, karena butuh ketekunan dan kekuatan tangan. Itu pula yang menjadi kendala proses regenerasi. Dari 10 atau 15 orang yang menyatakan siap bergabung, ketika sudah berlatih gugur satu persatu. Terkadang hanya tersisa satu atau lebih sering lagi tidak ada satu pun yang bertahan.

“Anak-anak remaja biasanya kurang tahan, karena butuh kekuatan tangan. Pertama latihan pasti pegal-pegal. Yang bertahan justru yang tua-tua,. Apalagi saat pentas, semua dikerjakan sendiri, mulai dari mengangkat perlengkapan, memasang, mendadani dan membentuk boneka sesuai cerita yang dibawakan, sampai memainkan. Itu semua butuh ketekunan dan keseriusan,” ujar There sembari tertawa.

Untuk menjadi anggota Hops Puppet & Friends, setiap orang dikenai biaya Rp30 ribu/bulan. Iuran itu digunakan untuk konsumsi setiap kali latihan yang diselenggarakan satu minggu dua kali, mulai dari pukul 19.00 sampai 12 tengah malam. Untuk latihan, mereka mendapat pinjaman gedung di Crab Paradise Grenville dan sebuah sekolah di Jakarta Barat.

Sebelum menutup perbincangan, There menambahkan, Hops Puppet & Friends memiliki boneka dengan karakter orang, binatang, dan tube panjang yang bisa dibentuk-bentuk. Boneka-boneka itu sebelum dimainkan didandani sesuai karakter, misalnya menggunakan baju astraunot, karakter Disney, dsb. Sekali pementasan minimal buutuh 15 orang untuk memainkan boneka. Ketika pementasan besar seperti musikal, setidaknya dibutuhkan 60 pemain. (D-1)

Hops Puppet & Friends
web: hopspuppet.com
Kontak: Yenny (081911212121), Sisi (08129793745 / Christasia.mw@gmail.com )

Berkarya dengan Puppet
Bagaimana artikel ini menurut Anda?