Select Page

Menikmati keindahan alam Sumatra Barat seperti tidak ada habisnya. Ada empat destinasi wisatawan favorit yang selalu dikunjungi. Apa saja?

1.Istano Basa Pagaruyung

INILAH tempat di mana kita bisa mengagumi setiap ukiran dan kemegahan bangunan adat Minangkabau. Di situ pula kita bisa memahami bahwa setiap ukiran, setiap bentuk bahkan kemiringan tiang penyangga bangunan memiliki makna yang mengandung kearifan lokal.

destinasi 24 istano paguruyung

Istana Basa Pagaruyung, terletak di Kabupaten Tanah Datar. Berdiri megah, menjadi sentral dari beberapa bangunan pendukung yang antara lain berupa tiga lumbung dan surau. Bangunan istana penuh dengan ukiran dan warna-warna indah. Di bagian dalam didominasi warna emas.

Yoseptian Suheri, pemandu wisata di tempat itu berkisah, Istana Pagaruyung yang asli berdiri 1804,  di atas bukit dekat bangunan replika sekarang. Istana tersebut habis terbakar pada masa Perang Padri. Masa kerajaan di Minangkabau berakhir ketika Kolonial Belanda masuk dan menangkap raja terakhir Alam Bagagarsyah sekitar 1820-an.

Replika Istana Basa Pagaruyung didirikan pada 1976 di lokasi yang sekarang digunakan. Istana itu berfungsi sebagai museum dan objek wisata, namun kembali terbakar (tersambar petir) pada 2007. Secara fisik bangunan habis dan koleksi museum hanya tersisa sekitar 15%. Kepada daerah se Sumatra Barat segera bermusyawarah dan pada 2008 membangun kembali Istana Basa Pagaruyung. Kompleks istana menempati tanah seluas 3 hektare dari areal keseluruhan 11 hektare itu diresmikan pada 2013.

Yoseptian kemudian menjelaskan fungsi masing-masing bangunan dan makna dari setiap ukiran. Dia juga menunjukkan tiang-tiang penyangga bangunan yang sengaja dipasang miring agar lebih fleksibel menahan gempa.

Di Istana Pagaruyung tersedia penyewaan pakaian adat dengan harga Rp35.000,bisa dipakai tanpa batas waktu. Foto langsung jadi pun tersedia dengan harga cetak bervariasi, mulai dari Rp20 ribu/lembar.

destinasi 24 pusat dokumentasi

Pusat Informasi

Penjelasan tentang bangunan, adat, dan kearifan lokal juga bisa didapat di Pusat Dokumentasi Informasi dan Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) di Kota Padang Panjang. Ita pemandu dari PDIKM, menjelaskan dua tipe perbedaan bentuk rumah gadang berdasarkan  suku . Dijelaskan pula bahwa rumah gadang adalah milik adat yang diwariskan pada garis perempuan. Ketika akan beralih fungsi, dijual, atau pun digadaikan, maka harus melalui rapat adat dengan persyaratan-persyaratan ketat.

Pihak lelaki sejak usia 10 tahun diajar mandiri, keluar dari rumah, tidur dan menimba ilmu di surau. Mereka akan merantau  dan hidup mandiri. Jika mengalami kegagalan, maka, saudara perempuan wajib membantu. “Intinya, sistem matrilineal sangat melindungi perempuan. Ketika suami meninggal dan ekonomi tidak memungkinkan, maka bisa tinggal di rumah adat,” papar Ita.

Ita juga menjelaskan  beberapa makna dari ukiran di rumah adat. Di bagian depan, katanya, disebut sikambang mani. Berbentuk bunga yang melambangkan keramahan penghuninya. PDIKM saat ini juga berfungsi sebagai perpustakaan, buka mulai pukul 08.00 hingga 16.00.

2.Puncak Lawang

destinasi 24 puncak lawang

PUNCAK Lawang di Kabupaten Agam, Sumatra Barat adalah salah satu tempat yang harus dikunjungi.  Di dekat Puncak Lawang  ada gardu pandang Ambun Tanai, tempat wisatawan bisa melihat sebagian keindahan alam  Sumatra Barat. Dari Bukittinggi, kedua tempat itu bisa dicapai sekitar 1,5 jam.

Sepanjang perjalanan memasuki dan melewati Puncak Lawang, pemandangan membentang indah. Di satu sisi hamparan sawah, sisi lain Danau Maninjau. Di antara kedua itu, terlihat jalanan mulus berliku. Rasanya tidak bosan-bosan  mengabadikan.

Perjalanan dilanjutkan menuju kelok 44 yang legendaris itu. Merasakan kelokan-kelokan tajam yang diapit pemandangan indah di kedua sisi jalan. Rombongan kami berhenti sejenak untuk mengabadikan kelok 43 dan juga spot labu berlatar Danau Maninjau.

destinasi 24 danau maninjau labu kuning

Lembah Harau & Kelok 9

Puas memotret dan menikmati pemandangan, perjalanan dilanjutkan ke Kabupaten Lima Puluh Kota untuk melihat Lembah Harau  dan kelok 9. Masuk ke kawasan Lembah Harau, lagi-lagi seperti menyaksikan keajaiban semyuman alam. Hijaunya lembah dikelilingi tebing-tebing tinggi, sungguh memesona.

destinasi 24 kelok 9

Berjalan lebih jauh, dijumpai air terjun tinggi dengan kolam di bawahnya, tepat di tepi jalan. Indah, sayangnya di tepi air terjun sudah berdiri bangunan. Di seberang jalan berjejer penjual makanan dengan tenda warna-warni. Terkesan kurang tertata, kurang rapi, tidak harmoni dengan suguhan  alam. Di salah satu warung, kami menikmati segelas teh manis dan opak dengan bumbu mirip sate padang. Setelah itu kami menuju kelok 9. Jalan layang yang menyuguhkan perpaduan modernitas dan keindahan alam berupa tebing-tebing tinggi.

Saat kembali ke Bukittinggi, kami melewati kawasan Payakumbuh dengan jajaran toko dan tempat makan dengan bahan utama jagung. Kami singgah untuk mencicipi beberapa panganan kukus dan goreng, seperti donat, risol, sejenis kue talam, dll.

3.Bukittinggi     

 SIAPA tak kenal Bukittinggi?  Kota kelahiran Bung Hatta itu sejak dulu menjadi incaran wisatawan. Sampai sekarang pun – meski udara tak lagi sedingin dulu —  menjadi salah satu target kunjung turis lokal dan mancanegara. Di akhir pekan, apalagi libur panjang, sudah pasti mencari tempat menginap.

destinasi 24 jam gadang

Wisatawan dari Malaysia banyak berkunjung ke Bukittinggi. Selain ikatan sejarah, harga tiket pesawat dari Kuala Lumpur ke Bukittinggi tergolong murah, sekitar Rp500.000 sekali jalan. Mereka datang untuk berbelanja dan berwisata kuliner. Tingginya transaksi dengan turis asal Malaysia, membuat banyak toko hingga penjual jajanan pinggir jalan menerima pembayaran dalam mata uang ringgit.

Satu hari mengeksplor Bukittinggi, beberapa objek berhasil didatangi. Di antaranya Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Jembatan Limpapeh, Jam Gadang, Rumah Bung Hatta, menikmati nasi kapau dan pical sikai, kemudian mampir ke Pandai Sikek dalam perjalanan dari Bukittinggi ke Padang.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok menunjukkan keindahan alam Bukittinggi. Lembah, ngarai, tebing, terasa menonjol di tengah kota dan gedung-gedung. Dari gardu pandang, pemandangan Ngarai Sianok ungguh memukau.

destinasi 24 ngarai sianouk

Tidak jauh dari situ ada Lobang (Lubang) Jepang sepanjang 1.400 meter, tempat pertahanan, gudang senjata, dan makanan tentara Jepang. Diperkirakan sekitar 1942, ratusan ribu orang dari luar Pulau Sumatra dipaksa membangun Lobang Jepang.

Jam Gadang

Dari Ngarai Sianok, dilanjutkan berjalan kaki ke Jam Gadang. Berdiri megah dan terawat baik, kontras dengan keriuhan dan bangunan modern di sekelilingnya. Masyarakat dan wisatawan bersantai di halaman yang mengitari ikon Kota Bukittinggi itu.  Di salah satu sisi jalan berderet kereta kuda yang siap digunakan . Tarif keliling kawasan Taman Ponarama sekitar Rp50 ribu. Keliling Kota Bukittinggi Rp100 ribu.

Dari Jam Gadang kami melintasi Jembatan Limpapeh, kemudian makan siang di Nasi Kapau yang terkenal itu. Menikmati dendeng kering, rendang ayam, berikut potongan dadu singkong yang sudah digoreng dan dibumbui. Sungguh nikmat. Uniknya, ketika membungkus untuk dibawa pulang, porsinya jauh lebih besar dan harganya lebih murah dibandingkan dengan makan di tempat. Nasi kapau melengkapi kuliner sebelumnya di Pical Sikai, khas Bukittingi.

Sasaran selanjutnya adalah Museum Bung Hatta. Rumah kayu tempat kelahiran dan kerja Bung Hatta itu terasa sejuk dan asri. Perabotan kuno di dalamnya terjaga dengan baik. Dari situ perjalanan akan dilanjutkan ke Kota Padang. Sebelumnya mampir terlebih dahulu ke Pandai Sikek, perkampungan tenun dan kain bordir khas Sumatra Barat.

destinasi 24 kain songket 3

Pecinta kain tradisional akan dimanjakan dengan berbagai jenis kain dengan harga terjangkau. Salah satunya ada di Toko Satu Karya. Harga satu lembar kain tenun sekitar Rp450 ribu. Kain sepanjang empat meter dengan bordiran bunga Rp90 ribu hingga Rp150 ribu. Kain kerudung antara Rp20 ribu hingga Rp60 ribu. Wisatawan asal Malaysia sangat gemar berbelanja. Mereka membeli untuk oleh-oleh, bahkan sebagian untuk dijual kembali. Selamat menikmati pemandangan dan berbelanja!

 4.Melayang di Bukit Langkisau

 destinasi 24 bukit langkisau

HARI terakhir sebelum kembali ke Jakarta dengan penerbangan sore, perjalanan berlanjut ke Pantai Carocok dan Bukit Langkisau di Kabupaten Pesisir Selatan. Pantai Carocok menawarkan berbagai aktivitas air (watersport), mulai dari banana boat hingga jet ski.

Setelah makan siang di pinggir pantai, perjalanan dilanjutkan ke Bukit Langkisau. Jaraknya hanya sekitar 5 menit. Namun, suasana dan udara berubah seketika. Panas pantai tidak lagi terasa saat tiba di atas bukit. Angin semilir, dan lebih dari itu, hamparan pemandangan luar biasa menyapa mata. Laut, pepohonan, dan kibaran parasut-parasut paralayang.

Bukit Langkisau menjadi tempat mencuci mata, selfie, sekaligus pusat aktivitas paralayang. Masyarakat umum bisa ikut terbang bebas dengan cara tandem. “Biaya sekali terbang  tandem sekitar Rp300 ribu. Sesampai di bawah nanti dijemput motor untuk naik kembali ke bukit,” papar Icha, salah satu atlet paralayang yang kebetulan tengah berlatih ketika kami berkunjung ke Bukit Langkisau.

Di tempat itu, rasakan kebebasan dan ketakjuban melihat indahnya pemandangan

 

 

Empat Destinasi Terindah Sumatra Barat
3 (60%) 2 votes


Also published on Medium.