Select Page

IMG_0754 INI cara lain menikmati Jakarta. Pergilah di akhir pekan, dan datanglah ke kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta bersama teman mau pun keluarga. Buang apa pun anggapan tentang Jakarta yang selama ini sudah terlanjur mengendap di benak Anda, buka pikiran, dan nikmatilah Batavia dari kacamata berbeda. Siap?

Datang ke Pelabuhan Sunda Kelapa lebih asyik jika memilih waktu pagi atau sore hari. Kapal-kapal besar berdiri megah berlatar langit biru. Percayalah, tangan tak akan bisa berhenti menekan tombol kamera maupun telepon genggam. Deretan kapal dan kesibukan bongkar muat, memunculkan imajinasi, bagaimana dulu kesibukan pelabuhan yang sudah ada sejak abad ke-15 itu.

Pelabuhan Sunda Kelapa sempat berkali-kali ganti nama, disesuaikan dengan siapa yang berkuasa. Sejarah mencatat, ketika berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara dan Sunda, tempat itu bernama Pelabuhan Sunda Kelapa. Ketika dikuasai Kesultanan Demak, berganti nama menjadi Jayakarta. Begitu Belanda berkuasa, berubah menjadi Batavia. Namun, sejak 1974, SK Gubernur DKI Jakarta menetapkan kembali nama Sunda Kelapa.

IMG_0825Berperahu
Apa saja sih kegiatan yang bisa dilakukan? Memotret jelas tidak bisa dihindari. Setelah berjalan dan memotret ke sana ke mari,silakan lmelangkah mendekati pembatas tempat sandar kapal. Di situ akan ada nelayan yang menawarkan keliling pelabuhan dengan kapal motor kecil.  Tanpa pikir panjang, tawaran itu langsung kami terima. Tarifnya Rp50 ribu untuk satu perahu dengan kapasitas sekitar lima orang.

Maka mulailah aksi melompati pembatas yang cukup tinggi menuju perahu yang bersandar di sela badan-badan kapal besar. Hup, perjalanan pun dimulai. Perahu bergerak lincah melewati celah pertemuan dua anjungan kapal. Di sela itu terang matahari mengintip, sebelum akhirnya perahu kami ke luar menghadap perairan dengan air yang berwarna kusam. Meski demikian, pemandangan yang terpampang menakjubkan. Memberi sensasi takjub ketika perahu berjalan diapit badan kapal dan gedung-gedung tinggi ibu kota.

Pengemudi perahu dengan gembira menjelaskan berbagai tempat yang dilewati. Deretan kapal, proses bongkar muat, kapal phinisi, perkampungan nelayan yang terlihat kumuh, hingga mercusuar berwarna hijau di tengah laut.

Di tengah perjalanan, beberapa kali berpapasan dengan perahu lain yang berisi rombongan wisatawan asing. Mereka juga terlihat menikmati, melambaikan tangan dengan rambut dan pakaian yang berkibar karena kencangnya angin.

IMG_0787Dalam perjalanan pulang setelah berkeliling, pengemudi perahu berhenti di salah satu sisi badan kapal besar dan menawarkan kami untuk naik ke geladak. Siapa yang bisa menolak tawaran itu? Jadilah sedikit aktivitas memanjat sebelum sampai ke geladak kapal. Dari situ pemandangan berubah. Tiang-tiang kapal terlihat jelas, bongkar angkut muatan dengan alat berat juga bisa disaksikan.

Setelah puas, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini pengemudi perahu memberi dua tawaran, akan kembali ke titik awal keberangkatan atau akan turun di Museum Bahari. Tentu tawaran kedua yang kami pilih. Setelah berkeliling sekitar 35 menit, perahu kami merapat di tiang tambat sederhana dengan jalinan papan di atasnya. Dengan sedikit berusaha, sampailah kami kembali ke daratan. Saat itu, langit mulai memerah. Senja memertontonkan pesonanya. Dari situ, perjalanan ke Museum Bahari dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, melewati perkampungan nelayan.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Jl Sunda Kelapa, Jakarta
Tiket masuk Rp2.500/orang

 

Museum Bahari
Museum membosankan? Tergantung dari sudut pandang apa Anda melihat. Namun, menjelang matahari terbenam sore itu, Museum Bahari sepi pengunjung. Ditemani semilir angin laut, berdua dengan kawan menelusuri bangunan tua yang dibangun pada 1652 itu, dan berfungsi sebagai gudang hingga menjadi Museum Bahari di zaman Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

IMG_0866Pecinta bangunan tua pasti suka dengan Museum Bahari. Tembok, pintu, kayu, atap, menyimpan banyak kisah. Museum Bahari tak akan habis ditelusuri dalam satu jam. Bangunan tiga tingkat itu menyimpan banyak sejarah kemaritiman Indonesia. Berbagai replika kapal dan diorama bisa dinikmati di lantai dua. Di lantai satu, tepatnya di bagian tengah ada halaman luas terbuka dengan jendela-jendela tua yang dibingkai dinding putih.

Petugas museum mengatakan, menelusuri Museum Bahari akan sangat menyenangkan jika dilakukan dalam rombongan. Jika ingin merasakan sensasi berbeda, datanglah di malam hari. Lakukan reservasi, dan perjalanan malam mengelilingi museum yang kental dengan nuansa masa lampau pun siap dilakukan. Tentu dengan ditemani seorang pemandu wisata dengan tarif sangat terjangkau, Rp40.000. (D-1)

IMG_0870Museum Bahari
Jalan Pasar Ikan No 1, Jakarta Utara
Telp: (021) 669-3406 dan (021) 669-2476
Operasional: 08.30 – 18.00 (Senin dan hari libur nasional tutup)
Tiket masuk: Rp5.000 (dewasa), Rp3.000 (mahasiswa), Rp2.000 (pelajar)
Pemandu Rp40.000

 

Ini Cara Lain Menikmati Jakarta
Bagaimana artikel ini menurut Anda?