Select Page

SUMBA Barat Daya kaya kampung adat yang beberadaannya masih lestari. Jumlahnya lebih dari 10 perkampungan dan tersebar di daerah pantai dan pegunungan. Sebagian besar penduduknya masih menganut kepercayaan Marapu. Mereka teguh memegang adat dan tradisi, termasuk menjalani berbagai upacara ketika membuat rumah, pencarian nyale, Pasola, hingga upacara kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Rumah adat Sumba selalu didirikan di tempat yang sama, termasuk lokasi berdirinya tiang-tiang penyangga. Seluruh bangunan terbuat dari kayu dan disusun tanpa paku, tapi menggunakan pasak-pasak kayu. Di setiap tiang dilengkapi dengan kayu berbentuk bundar pipih yang antara lain berfungsi untuk mencegah tikus naik ke lumbung. Secara garis besar rumah adat Sumba terdiri dari tiga bagian, pertama kolong rumah untuk hewan peliharaan, lantai pertama untuk ruang tamu, tempat tidur dan dapur, dan paling atas berfungsi sebagai lumbung atau tempat menyimpan makanan. Dapur diletakkan di bagian tengah ruangan, menjadi sentral kegiatan.

Atap rumah adat Sumba menjulang tinggi ke langit, menjadi simbol hubungan manusia dengan pencipta. Beberapa ornamen ukiran yang ditemui di tiang rumah mau pun kubur batu, sarat makna. Ukiran buaya dan kura-kura misalnya, digunakan untuk mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang baik harus bijaksana (dilambangkan dengan kura-kura) dan tegas (dilambangkan dengan buaya). Gambar kuda menjadi simbol manusia harus tetap semangat dan terus berjuang, ayam jantan lambang keselamatan, dsb.

Sebagian kampung adat  di Sumba Barat Daya sudah siap menyambut wisatawan yang ingin merasakan denyut kehidupan dan kearifan masyakarat setempat dengan ikut tidur di rumah adat. Berikut beberapa kampung adat yang bisa menjadi pilihan kunjungan saat berlibur ke Sumba Barat Daya.

IMG_7612Kampung Adat Wainyapu
Ini salah satu kampung adat yang menjadi tuan rumah pelaksanaan Pasola. Ketika perayaan berlangsung, suasana kampung yang semula sepi berubah menjadi hidup. Dapur yang terletak di tengah ruang rumah menjadi sentral pertemuan antarkerabat. Nasi dan lauk matang terhidang dalam panci-panci besar. Asap kayu bakar mengepul dari ruang tengah rumah adat. Kopi diseduh bergelas-gelas untuk para tamu.

Kampung Adat Wainyapu terletak sekitar 63 km dari Tambolaka, atau butuh sekitar 1 jam 45 menit berkendara. Lokasinya tepat di pinggir Pantai Wainyapu. Ada sekitar 60 unit rumah adat, lengkap dengan kubur-kubur batu besar yang jumlahnya lebih dari 1.000. Jika mengambil gambar dengan drone, keindahan dan keunikan Kampung Adat Wainyapu akan terlihat jelas. Pantai, rumah-rumah khas dengan arsitektur atap menjulang yang ditutup ilalang, dan kumpulan kubur batu memesona.

 

Kampung Adat Ratenggaro
Kampung Adat Ratenggaro lokasinya berdekatan dengan Pantai Ratenggaro yang terkenal indah dan kerap disambangi wisatawan. Begitu masuk areal perkampungan, terlihat ratusan kubur batu. Setelah itu tampak julangan tinggi atap-atap rumah adat.

Sore hari, suasana kampung akan terasa lebih hidup. Kain tenun warna-warni yang dijemur kian menguarkan aroma khas Sumba. Susananya menyenangkan dan sangat khas. Bisa dipastikan menjadi salah satu surga bagi penyuka atau penghobi fotografi. Juga untuk wisatawan umum, apalagi yang menyukai wisata sejarah, budaya, dan adat-istiadat.

Kampung Adat Umbu Koba
Kampung adat Umbu Koba, salah satu kampung yang tak kalah menarik. Masyarakatnya masih memertahankan pakaian tradisional dari kulit kayu, meski tidak dikenakan lagi sebagai pakaian sehari-hari. Tempat itu menawarkan suasana kampung yang khas. Jika diminta untuk kepentingan pengambilan gambar, masyarakat Umbu Koba tidak keberatan mengenakan baju tradisional dari kulit kayu. Hanya saja, ada biaya yang besarannya sebaiknya disepakati dari awal.

Kampung Adat Wee Lewo
Wee Lewo merupakan kampung adat tua yang terletak di Desa Mareda Kalada, Kecamatan Wewewa Timur, sekitar 26 km atau 30 menit perjalanan dari Tambolaka. Wee Lewo terletak di kawasan pegunungan berhawa sejuk. Masyarakatnya ramah dan kuat memegang adat. Di dalam perkampungan masih ada 9 rumah adat dan 100 kubur batu asli peninggalan nenek moyang yang usianya sudah sangat tua.

Banyak aturan adat yang masih sangat dipatuhi. Ketika mereka melakukan perayaan semacam ucapan sukur atas kelimpahan panen, wisatawan benar-benar tidak diperkenankan memotret. Ada juga satu rumah yang sudah sangat kuno dan menjadi tempat tetua adat tinggal. Di dalam rumah itu tidak boleh ada penerangan, tidak diperkenankan menyalakan api, tidak boleh bersuara, dan jika bertamu pun tak boleh melempar pandang ke sekeliling.

Wee Lewo merupakan salah satu kampung adat di Sumba Barat Daya yang sudah siap menerima wisatawan asing dan nusantara untuk menginap di rumah adat. (D-1)