Select Page

Kedai Tak Kie, tempat menyeruput kopi tempo dulu, sekaligus menikmati kekhasan suasana pecinan.

MASUK ke Kedai Kopi Tak Kie, benar-benar mengingatkan pada suasana tempo dulu. Luas, sederhana dengan kursi dan meja kayu, foto-foto tua dengan bingkai sederhana, kalender besar sistem sobek, dan juga kasir di balik meja tinggi. Untuk mencapai tempat itu, kita diajak menelusuri salah satu gang di kawasan Pecinan Glodok. Warna merah mendominasi, sementara di sisi kiri dan kanan gang berjajari penjaja makanan halal dan non halal serta buah-buahan segar seperti delima, jeruk, buah naga, dll.

Kedai Kopi Tak Kie, merupakan salah satu warung kopi tua yang berdiri sejak 1927. Kini, kedai itu dikelola Latif Yulus, generasi ketiga. Dia berkisah, awalnya Tak Kie buka di kawasan Petak Sembilan, Glodok. Pada 1930-an baru pindah ke Pintu Besar Selatan dan terus buka sampai sekarang.

Kedai Tak Kie

Kedai Tak Kie (foto: Destinasi Indonesia)

Sejarah Kedai Tak Kie Sejak Sebelum Kemerdekaan RI

Awalnya kisah Latif, 63, dagangan utama bukanlah kopi, tetapi teh. Namun, ternyata pelanggan lebih menyukai kopi, hingga akhirnya teh hanya sebagai menu pendamping. Pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan, Kedai Kopi Tak Kie masih menjadi pusat pertemuan. Menu yang dijual di kedai beragam, mulai dari jajanan tradisional hingga berbagai menu berat.

Seiring perubahan zaman, menu-menu tersebut terseleksi dengan sendirinya. Kini hanya tersedia beberapa jenis, di antaranya yang melegenda adalah nasi campur, nasi tim, mi ayam, suikiaw, dan pangsit. Disamping itu, tentu es kopi tubruk dan kopi susu.

Kini, Kedai Kopi Tak Kie, didatangi pelanggan yang lebih bervariasi, Mulai dari generasi tua, generasi muda, wisatawan lokal, dan terkadang juga wisatawan mancanegara. Namun, karena letaknya di dalam gang pasar, pukul 14.00 sudah tutup. “Lewat jam itu pasar sudah sepi. Karena itu, kita cuma buka sampai jam dua siang,” terang Latif. (D-1)

Kedai Tak Kie: Seruput Kopi Tempoe Doeloe
4 (80%) 1 vote