Select Page

Indonesia perlu sistem agar bisa keluar dari ‘jajahan’ industri kreatif negara lain dan bisa memunculkan potensi kreasi sendiri.

DI KALANGAN komikus nasional dan internasional, nama Chris Lie tidak asing lagi. Dia mengerjakan berbagai komik, video game, hingga desain mainan untuk karakter komik kelas dunia. Di antaranya komik Transformers vs GI Joe, Voltron covers, GI Joe Sigma6, Dungeons and Dragons Eberron, Drafted comic series, Fraggle Rock Vol.2 issue#1, Return to Labyrinth volume 1-4 graphic novels yang menjadi manga bestsellers #4 di New York Times, dan masih banyak lagi.

Pada 2008, seniman yang menyelesaikan gelar master di Sequential Art dari Savannah College of Art dan Desain pada tahun 2005 itu memutuskan membangun Caravan Studio di Jakarta. Dia merekrut bakat-bakat muda Indonesia dan melayani klien dari berbagai perusahaan besar seperti Sony online Entertainment, Hasbro, Mattel, wizard of The Coast, dsb.

Pada 2013 dia mendirikan re:ON Comics, situs majalah komik berkala, dengan tujuan untuk mempromosikan seniman komik lokal dan menjadi pelopor dalam membangun industri komik di Indonesia. Chris juga menyelenggarakan Comicfest ID yang dimulai pada 2015. Tahun ini, salah satu acara di Comicfest ID adalah pertunjukkan Ramayana yang dimainkan cosplayer-cosplayer berkelas internasional. Berikut kutipan wawancara Destinasi Indonesia dengan Chris Lie.

Mengapa tertarik membuat Comicfest Id?
Sederhana saja, ingin menyediakan tempat untuk komikus Indonesia agar mereka bisa memerkenalkan karya-karyanya pada masyarakat dan penerbit. Menjembatani antara komikus lama dan komikus generasi baru supaya ada benang merah dan supaya mereka mengenal sejarah. Melalui even ini, kita juga mendatangkan senimanseniman dari luar negeri untuk transfer ilmu. Itu sebabnya ada workshop dan talkshow, bukan sekadar foto dan tanda tangan saja.

Terkait dengan pertunjukkan Ramayana?
Kita ingin generasi muda mengenal cerita-cerita wayang. Idenya mengemas wayang dalam budaya pop. Sekarang kita jual komik wayang susahnya setengah mati. Kita coba kombinasikan pementasan Ramayana yang dimainkan cosplayer-cosplayer luar negeri dan Indonesia. Kita juga membuat kompetisi cosplay, khusus tentang tokoh-tokoh komik Indonesia.

Berarti ada keyakinan dengan komik Indonesia?
Saya yakin, jika digarap dengan benar, potensi kita bisa muncul di kancah internasional. Dan saya yakin masih banyak orang yang peduli dengan komik Indonesia. Itu salah satu yang membuat komik Indonesia dua atau tiga tahun belakangan mulai bangkit lagi.

Chris Lie di Comicfest ID (foto dok.pribadi Chris Lie)

(foto dok.pribadi Chris Lie)

Bisa jabarkan benang merah komik dan pariwisata?
Bicara komik, berarti juga terkait animasi dan cosplay. Cosplay itu jelas dari Jepang. Pemerintah Jepang dengan sadar menggunakan cosplay, komik, dan animasi, termasuk musik sebagai alat untuk memromosikan budaya dan pariwisata, supaya orang tertarik datang ke Jepang.

Jadi, pemerintah ikut campur?
Itu jelas. Mereka mesponsori berbagai even lewat Pusat Kebudayaan Jepang. Kita ini korban Jepang. Beberapa puluh tahun lalu, Doraemon masuk ke Indonesia, disiarkan gratis. Masuk tahun ketiga — kalau tidak salah — stasiun televisi baru diminta membayar jika ingin melanjutkan. Kita juga korban ‘cuci otak’ Amerika dengan film-film mereka. Dua negara itu yang terbesar. Belakangan muncul Korea Selatan. Pemerintah melalui industri kreatif dan teknologi, menanamkan dan menyebarkan budaya K-Pop. Itu semua digerakkan oleh negara, bukan perusahaan. Pemerintah ikut campur dengan berbagai kebijakan yang mendukung dan mendorong.

Bagaimana dengan pemerintah Indonesia?
Industri ini tidak main-main. Ini industri besar yang harus ditangani serius. Tidak cukup hanya dengan pameran dan promosi saja, tapi harus dibina dengan sistem yang benar. Nah, dengan sistem ini-lah yang sampai sekarang belum ada. Sebenarnya tidak usah pusing. Kita tinggal mengkopi dari Singapura, Malaysia, Kanada, dan Korea, kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi kita.

Bisa lebih dijabarkan?
Contoh nyata terjadi di Quebec, Kanada. Dulu Quebec kota mati. Sekarang menjadi kota yang sangat hidup. Pemerintah memeberi berbagai kemudahan, termasuk keringanan pajak, sehingga perusahaan-perusahaan game kelas dunia pindah ke situ. Contoh yang sama terjadi di Malaysia dan Singapura. Sony Picture Animation buka di Malaysia, dan Lucas Film buka di Singapura.

Dampak kehadiran dua perusahaan itu?
Dampak paling nyata pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Mereka mendapat transfer ilmu dari ahlahli yang bekerja di perusahaan internasional. SDM mereka jadi lebih mudah tersebar karena memiliki kualitas lebih baik.

Artinya di SDM di Indonesia masih kalah?
Kita harus akui, masih tertinggal. Indonesia belum memiliki sekolah komik. Jika ingin spesifik harus sekolah ke luar negeri, seperti yang saya lakukan. Dan negara kita belum memiliki perusahaan internasional seperti di Malaysia dan Singapura. Malaysia sebenarnya juga belum ada sekolah khusus komik. Tapi SDM mereka sangat terbantu dengan kehadiran Sony Picture Animation. Banyak anak muda yang magang, bekerja, mendapat tranfer ilmu, kemudian menyebar.

Harapan Anda?
Pemerintah bisa melihat bahwa industri ini sangat besar, bisa mengubah banyak hal. Karena itu perlu ditangani serius dan dikelola dengan sistem. (D-1)

karya komik Chris Lie (dok.pribadi Chris Lie)

(foto dok.pribadi Chris Lie)

———

Artikel pertama kali diterbitkan di Majalah Cetak Destinasi Indonesia edisi 25 (Juni-Juli 2016)

Chris Lie: Industri Kreatif Butuh Sistem
Bagaimana artikel ini menurut Anda?


Also published on Medium.