JIKA  membongkar kembali gudang rumah pada masa sekarang, mungkin Anda bisa melihat kamera film jadul yang semula terabaikan jadi terasa berharga. Bukan hanya karena nilai kenangan yang terkandung, tetapi juga munculnya hobi menggunakan kamera dengan rol film yang diakui penggemarnya mampu memberi sensasi tersendiri.

 

Partisipasi di acara  Jogja Street Shot-1Itulah kira-kira yang dialami Mohamad Hamzah pada tahun 2007 ketika membongkar lemari neneknya dan antusias ketika menemukan kamera lama sebab pada waktu itu ia mempunyai keinginan memotret namun tidak memiliki kamera. Antusias ini disalurkannya dengan membuka forum kamera analog di Kaskus regional Jogjakarta yang kemudian mengadakan kopi darat dengan anggota forum tersebut. Akhirnya pada tahun 2009 wadah ini diberi nama Kamera Analog Jogjakarta atau KAJ.

Selama 8 tahun berjalan komunitas yang kini diketuai Hardy Wiratama itu sudah 4 kali mengadakan pameran, yaitu pada 2010 di Misty Gallery Jogja, 2012 dua kali di Galeri Biasa Jogja, dan 2014 di Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta.

Hunting foto pun kerap diadakan berkolaborasi dengan komunitas lain seperti Kamera Analog Solo. Biasanya mereka berburu foto pada waktu-waktu Golden Time, yakni pukul 06.00 hingga 08.00 i dan sore 16.00 – 18.00. Pada saat itu cahaya matahari memberi efek dramatis pada fotografi. Tempat-tempat yang sering dikunjungi untuk hunting foto, antara lain kota lama, klenteng, pantai, gunung api, dll.
Karya Firdaus M FauziTukar Pikiran
Komunitas Kamera Analog menurut Hardy, rutin mengadakan pertemuan setiap Jumat malam di sebuah angkringan di wilayah Kaliurang. Anggota komunitas yang hadir memang tidak banyak, kurang lebih 15 orang. Namun, interaksi aktif berlangsung kapan saja, tidak hanya tatap muka, tetapi juga di media sosial, utamanya Facebook yang anggotanya sudah mencapai 3 ribuan penghobi.

“Media sosial menjadi wadah yang sangat membantu. Maklum, anggotanya beragam dengan domisili beragam pula. Di KAJ ada anggota yang memang menekuni dunia fotografi, ada pelajar, mahasiswa, pendeta, karyawan toko kamera, dan masih banyak lagi. Domisili mereka tersebar, tidak hanya di Yogyakarta. Facebook menjadi media berbagi pengalaman yang efektif. KAJ hanya satu dari sekian banyak komunitas serupa. Ada salah satu anggota KAJ yang sudah pindah domisili dan membuat komunitas serupa di daerahnya,” papar Hardy.

Tukar pikiran dan berbagi pengalaman memberi kebahagiaan tersendiri bagi anggota komunitas. Di situlah mereka menemukan berbagai pengetahuan baru. “Ini sangat penting, karena memotret menggunakan kamera analog memberi tantangan tersendiri. Kita harus benar-benar mempertimbangkan segala sesuatu karena terbatasnya frame pada film. Tiap momen jepretan menjadi begitu berharga,” ujar Mohamad Hamzah, anggota KAJ menambah keterangan yang diberikan Hardy.

Tukar pikiran dan pengalaman, terang Hamzah, bisa mengenai apa saja, mulai dari perangkat yang digunakan, film, teknik pengambilan foto yang bisa menghasilkan gambar unik, dsb. Bahkan dalam komunitas dibahas juga mengenai jenis film yang memiliki ciri khas berbeda ketika digunakan. Misalnya merk film A akan menghasilkan foto yang lebih cenderung hijau kebiruan, jenis film B menghasilkan foto yang cenderung berefek kuning, dsb. “Kami juga membahas pengambilan gambar seperti teknik kamera lubang jarum dan pengaturan ISO, diafragma, serta kecepatan p yang berbeda akan menghasilkan foto dengan efek berbeda pula.”

Proses Mencuci FilmProses Cuci Cetak
Menggunakan kamera analog tidak bisa dipisahkan dengan proses cuci cetak kamar gelap dengan bahan kimia yang membutuhkan keahlian tersendiri. Cuci foto dengan proses kimia menurut Hardy, merupakan nilai tambah dalam fotografi analog. Dalam proses ini, personel fotografer, film yang digunakan, setingan kamera, teknik pengambilan gambar, semua ikut melebur dalam proses, hingga menghasilkan citra yang diinginkan.

Namun,  sekarang tambah Hardy, sudah banyak teknologi yang menawarkan cuci cetak foto dengan lebih instan dan memermudah penikmat analog melihat hasil jepretan mereka dalam bentuk digital maupun fisik.

Ke depan, Hardy  dan Hamzah ingin sekali menghidupkan kembali kegiatan komunitas lewat pameran. Walaupun nonprofit, tapi kepuasan yang didapat tak bisa dinilai dengan materi. (CH/D-1)

Tips Merawat Kamera Analog
Berikut tips merawat kamera analog menurut Hardy Wiratama, ketua komunitas Kamera Analog Jogjakarta

  1. Simpan di tempat yang tidak lembap
    Anda dapat menyimpanya di dry box, atau kotak yang cukup aman untuk menjaga agar tidak berjamur dan terhindar dari debu.
    Lepas baterai sesekali Beberapa kamera analog yang semi modern menggunakan baterai. Ini harus sering dilepas sesudah pemakaian untuk menghindari korosi ataupun konslet dari kamera ketika digunakan.
  2. Simpan film di freezer
    Setiap rol film mengandung bahan kimia yang bertahan kurang lebih 3 tahun sampai pada batas kadaluarsanya. Jika terlalu lama tidak digunakan dan hanya disimpan di dalam kamera, bahan kimia itu bisa menyebabkan timbulnya korosi pada badan dalam kamera dan juga memengaruhi kualitas film. Harus segera dihabiskan sehabis loading film.
  3. Bersihkan tiap kali terkena kotoran
    Sama seperti merawat gadget lainnya, Anda perlu lebih peka terhadap kotoran yang menempel atau yang mengotori perangkat analog. Harus segera dibersihkan untuk menghindari kerusakan. Apalagi kamera analog adalah produk jadul sehingga harus lebih apik merawatnya.