H2H Marketing : The Movie Impact

BEBERAPA tahun lalu, saya pernah diundang untuk menyampaikan seminar dihadapan sekitar 7.000 guru-guru Muhammadiyah di Kampus Biru Universitas Muhammadiyah. Kebetulan Pak Din Syamsudin juga turut mendampingi sebagai moderator. Pak Din-lah yang menyebut saya sebagai ‘Ayatullah Marketing Indonesia’ di sesi yang sama.

Saat itu saya membuka ceramah dengan cerita Laskar Pelangi yang mengisahkan peran besar guru Muhammadiyah di Belitung. Film ini populer dan efektif memromosikan Belitung dan juga Muhammadiyah. Praktik serupa juga dilakukan di luar negeri dengan skala lebih besar. Contoh yang paling jelas adalah bagaimana Korea Selatan memromosikan berbagai destinasi pariwisata melalui media film. Saya sendiri pernah mengunjungi beberapa tempat di sana yang kerap kali dijadikan sebagai lokasi syuting.

Saya yang bisa dibilang ‘awam’ dengan dunia perfilman Korea Selatan saja tertarik. Apalagi dengan penggemar berat film Korea Selatan yang bisa jadi menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai daerah tujuan yang harus dikunjungi saat berwisata. Di belahan dunia lain, saya pun pernah menginap di La Mamonia di Makaresh, Maroko. Itu dilakukan hanya karena ada berita bahwa empat pemain Sex and The City pernah menginap dan syuting di sana dengan seting Abu Dhabi. Dalam perjalanan wisata terakhir pun saya mengunjungi Abu Dhabi karena pernah menonton film yang sama. Setelah diselisik, ternyata saat itu Abu Dhabi mati-matian hendak mereposisi diri. Salah satunya dengan cara promosi melalui film yang tidak hanya mengubah persepsi orang tapi membuat orang mau berkunjung ke sana. Untuk mendukung upaya ini, mereka rela membayar mahal produser film Hollywood.

Indonesia pernah dijadikan sebagai lokasi syuting beberapa film internasional. Salah satunya Eat Pray Love yang mengambil tempat di Ubud. Meski demikian, sayangnya kita belum memaksimalkan pendekatan ini. Seharusnya kita dapat menarik banyak produser dari negara barat dan juga Korea Selatan untuk membuat film di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, topik ini-lah yang hangat dibicarakan dalam pertemuan antara Menteri Pariwisata Indonesia dengan Travel Agent Korea Selatan di Seoul. Ternyata orang Korea Selatan sangat mudah terpengaruh film untuk mengunjungi suatu tempat. Terlebih bila adegan di suatu lokasi menggugah emosi . Karena itu, kita jangan terjebak untuk memotivasi orang Indonesia membuat film dengan destinasi Indonesia. Kita justru harus mengajak produser dan aktor asing untuk membuat cerita di Indonesia. Dengan alur cerita dan aktor yang tepat akan terjalin hubungan Human to Human (H2H) dengan penontonnya.

Sama seperti Laskar Pelangi yang secara tidak langsung memromosikan Belitung, kini sudah saatnya kita memanfaatkan film internasional untuk mempromosikan destinasi pariwisata Indonesia. Salam Indonesia WOW!

Hermawan Kartajaya
Founder & Chairman Markplus, Inc
dan Penasihat Destinasi Indonesia

Baca Juga Artikel Lainnya di Volume 26 :

  • Kilau Emas Tanjung Kelayang
  • Belitung Scientific Tourism
  • Langit, Pantai, & Bebatuan
  • Literary Tourism
  • Rindu Jelajah Ragam Destinasi
  • Candu Fotografi
  • Kamera Pengawas Rumah
  • Cara Menjadi Green Traveler
  • Shanty Paredes (Gorontalo Tak Terlupakan)

Dan masih banyak lagi..


Also published on Medium.