sumber: pixabay.com

 

KECAMATAN Paloh di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, memiliki panorama pesisir yang indah. Tak hanya itu, warganya juga punya tradisi dan budaya lokal yang unik seperti Ritual Besiak, Upacara Antar Ajung, dan tradisi Ngamping sebagai bentuk rasa syukur masyarakat pesisir atas panen yang berlimpah.

Tradisi tersebut sebagian diwujudkan daalam bentuk tarian, penumbukan padi hasil panen menjadi amping serta pelarungan miniatur kapal ke laut lepas yang berisi hasil bumi. Biasanya tradisi ini dilaksanakan pertengahan tahun, antara Juni hingga Agustus, bertepatan dengan musim puncak peneluran penyu Paloh.

Untuk mempromosikan potensi pesisir Paloh sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia, sejak tahun 2011 telah diinisiasi kegiatan Festival Pesisir Paloh sebagai bentuk promosi wisata pesisir, pelestarian tradisi, dan budaya lokal.

Sebelumnya warga setempat juga punya tradisi lempar telur penyu yang dilaksanakan pada setiap musim puncak peneluran yang merupakan pesta rakyat untuk mensyukuri atas telur penyu yang melimpah.

Namun, tradisi Lempar telur penyu sudah hampir 10 tahun tidak lagi dilaksanakan akibat populasinya yang menurun. Masyarakat lokal merindukan kembali kegiatan festival serupa sebagai bentuk pesta rakyat dan ajang pertemuan masyarakat pesisir.

Dengan demikian, melalui Festival Pesisir Paloh itu diharapkan dapat terlaksana pesta rakyat yang positif, memunculkan kebanggaan atas potensi yang dimiliki serta sebagai bentuk pelestarian budaya pesisir dan promosi ekowisata guna meningkatkan perekonomian lokal.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, geliat pariwisata di Kecamatan Paloh mulai bangkit. Kecamatan Paloh berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia, di belahan barat bagian utara Pulau Kalimantan. Wilayah ini juga dikenal dengan pantai tempat peneluran penyu terpanjang di Indonesia dengan bentang pantai mencapai 63 kilometer.

Penyu merupakan salah satu potensi wisata pesisir yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Namun, hingga kini masih sering terjadi upaya perburuan telur penyu baik untuk memenuhi pasar lokal maupun lintas negara.

Ekosistem perairan Paloh juga kaya akan sumberdaya ikan. Komoditas perikanan yang cukup potensial di Perairan Paloh di antaranya lobster, kepiting bakau, udang, bawal hingga ubur-ubur serta berbagai jenis ikan lainnya.

Tukik Rentan

Dalam festival tersebut kelompok penyelamat telur penyu telah berhasil menyelamatkan 123.500 telur penyu, dari target yang ingin dicapai sebanyak 130.122 butir telur. Jumlah tersebut sekitar 98% dari 1.328 sarang penyu yang bisa diselamatkan.

Kemampuan menetas telur penyu di Paloh cukup tinggi, yakni sekitar 85%. Namun, seperti penyu lainnya, daya bertahan hidup mereka di alam bebas sangat rendah. Telur dan anak penyu (tukik) kerap menjadi mangsa hewan lain serta perburuan oleh manusia.

Umumnya, dari 1.000 tukik hanya satu yang bisa bertahan hidup hingga dewasa. Itu sebabnya, Festival Pesisir Paloh selalu dikemas dalam beragam pentas seni dan budaya lokal serta berbasis konservasi. Tujuannya jelas, agar penyu di wilayah itu tidak punah.