Select Page

Menyaksikan Pacu Jawi menjadi impian banyak wisatawan, termasuk fotografer pemula hingga profesional dari dalam dan luar negeri.

Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, memiliki lebih dari 150 objek wisata alam, budaya, adat, dan kesenian. Belum lagi kekayaan kuliner di 14 kecamatan yang memiliki ciri khas berbeda.

Bagi pecinta fotografi, Sumatra Barat adalah surga. Landscape-nya luar biasa, seni budaya-nya memesona, pesta adat dan rakyatnya menggoda, belum lagi spot-spot unik untuk pengambilan foto yang menantang dan mengundang decak kagum. Di antaranya Aua Sarumpun di Kecamatan Rambatan, sekitar 30 menit dari Batusangkar. Dari ketinggian bukit, terbentang keindahan Danau Singkarak. Awan-awan putih berarak dan terasa dekat dengan kepala.

Sekertaris Dinas Pariwisata, Pemuda Deddy Prihatin dan Olahraga Kabupaten Batusangkar dan Y Parianto, ketua Komunitas Batusangkar Camera, menyebutkan bahwa Tanah Datar memiliki banyak spot foto menantang.

Butuh waktu minimal satu minggu untuk menjelajah Tanah Datar. Namun, jika waktu tak mencukupi, cukuplah empat hari tiga malam untuk mendatangi beberapa objek wisata utama. Itulah yang kami lakukan.

IMG_2701

Pacu Jawi/Foto: Lintang

 

Pacu Jawi
Atraksi Pacu Jawi atau lomba sapi jadi idaman banyak wisatawan yang datang ke Sumatra Barat. Ini kali keempat saya menjejak kaki di ‘Bumi Minangkabau’ dan baru bisa menyaksikan Pacu Jawi yang memesona itu. Selama ini informasi yang didapat sangat minim. Padahal, Pacu Jawi ternyata bisa dilihat sepanjang tahun setiap Sabtu dan Minggu, kecuali bulan puasa dan Lebaran.

Maka, kali keempat adalah keberuntungan. Minggu pertama Oktober, salah satu desa di Nagari Pariangan menjadi tempat diselenggarakannya Pacu Jawi. Pukul 13.00, lokasi menonton sudah dipenuhi masyarakat dan wisatawan. Jalanan berlumpur tak jadi halangan. Semua asyik menempati posisi, bersorak sorai, dan sebagian siaga dengan smartphone dan kamera untuk memotret. Ekspresi joki dan cipratan lumpur menjadi incaran ketika mengabadikan peristiwa.

Olahraga tradisional itu menuntut para joki mengendalikan sapi dengan memegang ekor. Jika ingin sapi berlari lebih kencang, mereka terkadang memberi gigitan pada ekor untuk memunculkan efek kejut. Cara itu memang efektif, namun para joki juga menanggung risiko gigi tanggal. Jadi, jangan heran jika melihat joki-joki muda tak lagi satu atau dua gigi depan.

IMG_2432

Desa Terindah di Dunia/Foto: Lintang Rowe

 

Desa Terindah di Dunia
Tanah Datar memiliki desa terindah di dunia, yakni Nagari Pariangan. Pada 2012 Desa Pariangan mendapat penghargaan sebagai salah satu desa terindah di dunia versi Budget Travel, bersanding dengan Desa Cesky Krumlov di Ceko, Eze di Prancis, Wangen di Swiss, dll.

Penghargaan itu memang sudah diumumkan beberapa tahun lalu, namun gema dan dampaknya baru terasa sekarang. Desa Pariangan bisa ditempuh sekitar 25 menit perjalanan dari Batusangkar. Biasanya, orang akan berhenti di Puncak Kawa. Di situ ada Warung Kopi Kawa Fitri. Menyenangkan bisa menyeruput kopi kawa seharga Rp5.000 di gelas batok kelapa, ditemani pisang dan kacang kulit. Rasanya kian sedap karena udara di Puncak Kawa sangat sejuk dengan hamparan sawah berundak berlatar pegunungan.

Sesungguhnya, pemandangan indah seperti itu ada di hampir seluruh daerah Kabupaten Tanah Datar dan Sumatra Barat pada umumnya. Lalu, apa yang membuat Desa Pariangan mendapat penghargaan sebagai desa terindah? Penilaian ternyata bukan hanya soal keindahan, tetapi juga kekuatan adat serta warisan leluhur yang masih terjaga baik. Desa Pariangan, merupakan desa asal mula Minangkabau. Dari desa itulah masyarakat Minangkabau menyebar seperti sekarang.

Tak jauh dari Puncak Kawa, wisatawan bisa turun ke desa tempat berdirinya Masjid Ishlah yang sudah berusia ratusan tahun. Banyak juga rumah-rumah gadang kuno, dan peninggalan sejarah seperti Prasasti Pariangan, Batu Lantak Tigo, surau-surau kuno, dan Kuburan Panjang Tantejo Gurhano.

Batu Lantak Tigo merupakan prasasti yang menjadi bukti penyebaran awal masyarakat Minangkabau di tiga tempat, yakni Luak Tanah Datar, 50 Kota, dan Agam. Ketiganya kini menjadi kabupaten di Sumatra Barat. Sedangkan Kuburan Panjang Tantejo Gurhano merupakan makam dari tokoh arsitek Balairung Sari, balai adat yang masuk dalam situs kepurbakalaan. Panjang makam 25,5 meter, namun kabarnya setiap kali orang mengukur mendapat hasil berbeda-beda.

Di Desa Tuo Pariangan juga terdapat tempat mandi air panas. Masyarakat masih menggunakan pemandian bersama, sekaligus sebagai tempat bersosialisasi.

IMG_2923

Puncak Pato/Foto: Lintang Rowe

 

Puncak Pato
Merupakan salah satu objek wisata yang menjadi prioritas pengembangan pemerintah Kabupaten Tanah Datar. Saat ini kondisinya sedikit terbengkalai, namun pemandangannya indah, lengkap dengan lambaian dan desir daun-daun pohon pinus.

Di balik keindahan itu tersimpan sejarah penting Minangkabau. Puncak Pato merupakan tempat tercapainya kesepakatan antara kaum adat dan agama. Pertemuan di Puncak Pato menghasilkan Sumpah Satiah Bukit Marapalam: Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang artinya pelaksanaan adat yang didasarkan syariat agama Islam, dan syariat tersebut berdasarkan pada Al-Quran dan Hadist.

Pemerintah kabupaten kemudian mendirikan monumen untuk memeringati kesepakatan tersebut, berupa tiga patung yang melambangkan ninik mamak (tokoh adat).

 

IMG_2362

Batu Batikam/Foto: Lintang

Batu Batikam
Sejarah Minangkabau juga tak bisa dilepaskan dari keberadaan Batu Batikam. Cagar budaya itu terletak di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum. Wisatawan bisa melihat batu cukup besar dengan lubang di bagian tengah. Di sekeliling Batu Batikam ada susunan bebatuan menyerupai tempat duduk.

Menurut sejarah, lubang di tengah batu itu merupakan hasil tikaman keris Datuak Parpatiah ketika terjadi perdebatan.Disekeliling Batu Batikam terdapat kursi-kursi yang terbuat dari susunan batu. Pada zamannya, kursi-kursi itu menjadi tempat duduk kepala-kepala suku ketika akan bermusyawarah.

 

 

 

IMG_2789

Istana Pagaruyung/Foto: Lintang

Istana Pagaruyung
Siapa yang tak terpesona dengan kemegahan Istana Basa Pagaruyung? Berdiri penuh warna dengan kerumitan ukiran di setiap dinding kayu, bahkan hingga langit-langit bangunan. Setiap wisatawan yang datang bisa memelajari kearifan lokal arsitektur bangunan nenek moyang. Perhatikan tiang-tiang penyangga yang dipasang miring. Kemiringan tiang penyangga itu sengaja dibuat agar bangunan bisa lebih fleksibel, ketika terjadi gempa.

Istana Basa Pagaruyung merupakan bangunan replika dari istana asli yang berdiri 1804 di atas bukit dekat lokasi istana yang sekarang. Istana yang asli sudah habis terbakar pada masa Perang Padri. Pada 1976 dibangun replikanya di lokasi sekarang, tetapi sempat terbakar (tersambar petir) pada 2007. Kebakaran itu menghanguskan bangunan dan koleksi museum hingga hanya tersisa 15%. Pada 2008, Istana Pagaruyung kembali didirikan dan berdiri megah hingga sekarang.

Nikmati arsitektur cantik dan suasana menyenangkan di sekeliling bagunan yang berlatar pegunungan dan dikelilingi taman luas. Wisatawan bisa menyewa pakaian adat dengan harga Rp35 ribu tanpa batas waktu pemakaian. Silakan seharian menggunakan pakaian adat berkeliling istana dan berfoto. Ada juga juru kamera yang menawarkan foto langsung jadi seharga Rp20 ribu. Jika ingin lukis wajah, ada seniman yang siap memenuhi permintaan. Ada juga pemandu wisata yang siap berbagi pengetahuan mengenai sejarah, hingga makna setiap ukiran.

 

IMG_3329

Kampung Minang Sumpu/Foto: Lintang

 

Kampung Minang Sumpu
Kontak: Karmita
Telp: 081363733737

Kampung Minang Nagari Sumpu menjadi salah satu desa wisata yang menyediakan homestay rumah gadang asli. Sangat menarik dan menantang bisa tidur di rumah gadang dan mengikuti kegiatan masyarakat mulai dari bertani hingga bercengkrama. Tersedia pula berbagai kegiatan wisata seperti makan bajamba, hiking, memancing, dsb.

Kampung Minang Nagari Sumpu punya kisah menarik. Karmita, pengelola rumah gadang Sumpu berkisah, awalnya ada 200 rumah gadang kuno di desanya. Namun, karena berbagai sebab, banyak yang tidak terawat hingga satu persatu roboh atau dirobohkan. Kondisi itu membuat dia prihatin.

Pada 2012, rumah gadang tua di desa itu hanya tersisa 68 unit. Akhirnya muncul ide pelestarian dengan cara menjadikan homestay. Wisatawan bisa tinggal bersama tuan rumah, mengikuti kegiatan sehari-hari, serta melakukan aktivitas wisata. “Waktu itu bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya, Universitas Bung Hatta, dan Institut Seni Indonesia di Padang Panjang,” terang Karmita.

Pada 2013 terjadi kebakaran yang menghanguskan lima rumah gadang, dan kemudian mendapat bantuan CSR dari perusahaan besar untuk membangun dua rumah gadang yang terbakar. Saat ini, sudah ada lima rumah gadang yang layak ditawarkan menjadi homestay, dua di lokasi bekas kebakaran, satu rumah Karmita yang berdekatan dengan lokasi kebakaran, dan dua lagi di Sumpu bawah. “Ada kamar yang disewakan di rumah gadang, namun kebanyakan lebih senang tidur beramai-ramai sekitar 30 sampai 50 orang. Tentu kami pisah ruang untuk perempuan dan laki-laki,” ujar Karmita.

Sekali menginap, jelas Karmita, perorang dikenai biaya Rp300 ribu, termasuk sarapan, makan bajamba, dan hiking. Jika ingin tambah makan siang atau malam, dikenai biaya tambahan Rp40 ribu/orang. Untuk kegiatan tertentu seperti belajar menangkap ikan dikenai biaya tambahan. Ada harga paket menginap satu malam termasuk sarapan, makan bajamba, dan berbagai kegiatan seperti hiking ke beberapa situs sejarah, menangkap ikan, belajar kuliner, dll Rp500 ribu per orang dengan minimal pemesanan 20 orang.

 

IMG_2886

Batu Angkek Angkek/Foto:Lintang

Batu Angkek-Angkek
Batu Angkek Angkek banyak dikunjungi wisatawan dan selebritas Indonesia. Penemuan Batu Angkek Angkek konon berawal dari mimpi kepala kaum dari Suku Piliang. Alfi pewaris dan pemilik Batu Angkek Angkek serta rumah gadang tempat batu tersebut diletakan menjelaskan, sebenarnya ada dua bilah batu serupa, yang pertama bisa diambil dan diangkat ke atas, tetapi yang kedua tidak bisa, sehingga dibiarkan di dalam tanah di bawah rumah gadang tersebut.

Masyarakat percaya, batu tersebut bisa menjadi petunjuk terkabul atau tidaknya keinginan seseorang. Jika terkabul, maka batu tersebut bisa diangkat ke pangkuan. Jika tidak, maka batu itu akan terasa berat, bahkan kerap tidak bergerak sama sekali. “Di sini otot tidak berlaku. Banyak yang berbadan besar tapi tidak berhasil. Sedangkan yang tubuhnya kecil justru berhasil. Banyak juga orang yang bisa mengangkat dan kemudian ketika membatin apa yang ingin dicapai, kedua batu tersebut tidak bergerak. Kami selalu mengingatkan bahwa batu ini hanya untuk motivasi. Sedangkan permintaan dan dikabulkan atau tidaknya itu kuasa Allah,” terang Alfi.

Entah karena sugesti atau benar, saat mencoba pertama kali setelah memikirkan satu cita-cita, batu tersebut bisa terangkat hingga ke pangkuan. Tetapi ketika diminta tidak memikirkan keinginan apa pun, batu tersebut benar-benar tidak terangkat, bahkan bergerak pun tidak.

Batu Angkek Angkek terletak di Nagari Tanjung, Sungayang, sekitar 10 km dari Batusangkar. Wisatawan yang datang tidak dikenai biaya, namun diharapkan memberi sumbangan sukarela.

Kincia Kamba Tigo
Kincir kembar tiga atau kincia kamba tigo terletak di Jorong Data, Kecamatan Rambatan, sekitar 8 km dari Batusangkar, dengan kombinasi transportasi roda empat atau dua, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju lokasi.

Kincia Kamba Tigo merupakan destinasi wisata baru yang diincar wisatawan. Ketenarannya bermula dari foto yang menjadi viral di media sosial. Kincir air itu unik, besar, tinggi dan ada yang dicat warna-warni. Awalnya dibangun untuk menaikan air dari Sungai Ombilin ke Masjid Istiqamah. Sekarang fungsinya bertambah sebagai tempat wisata baru.

 

IMG_2287

Bangau dan Beringin Tua/Foto: Lintang

Bangau
Jika Anda datang ke Batusangkar, maka pasti akan terpesona dengan pemandangan ratusan burung bangau yang beterbangan di langit biru saat pagi atau pun sore menjelang malam. Pada saat itu, langit tiba-tiba menjadi berbintik putih dan hitam.

Ada kisah unik terkait habitat bangau hitam dan putih yang ada di tengah Kota Batusangkar. Bupati Kabupaten Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi berkisah, pada 1980an, pohon beringin tua yang terletak di tengah kota mulai keropos di bagian bawah dan mulai terlihat tanda-tanda akan mati. Namun, pada tahun itu mulai berdatangan burung bangau putih dan hitam. Mereka membuat sarang di atas pohon, kian tahun kian banyak, dan kotoran burung bangau ternyata menjadi pupuk yang menghidupkan dan menguatkan kembali pohon beringin tersebut.

Kini jumlah bangau sudah luar biasa banyak, sehingga terkadang bau kotorannya mengganggu lingkungan sekitar. Terlepas dari itu, keberadaan burung bangau menjadi pemandangan menarik bagi wisatawan dan fotografer. Banyak yang berdiri menunggu moment pas untuk melepas jepretan. (D-1)