Select Page

Mendatangi desa adat Suku Sasak seakan mendapat siraman kekuatan dan kearifan lokal.

ADA banyak desa adat Suku Sasak yang eksistensinya masih sangat terjaga. Sebagian berusia ratusan tahun, sebagian lagi menjelang satu abad. Sebagian sudah tersentuh teknologi, sebagian lagi masih tak berlistrik. Dari keragaman kondisi, ada satu kesamaan yang sampai sekarang masih terus dipegang, yakni kekuatan adat!

IMG_6378Desa Ende
Tenang dan damai. Itu kesan pertama begitu memasuki pelataran Desa Ende, desa adat Suku Sasak, Lombok. Di sela rumah tradisional beratap rumbia (alang-alang), selalu terselip balai-balai terbuka, tempat penduduk termasuk anak-anak bersantai, bercengkrama. Di beberapa sudut, kaum perempuan sibuk menenun sembari mengawasi anak-anak yang sibuk berlarian dan bersenda-gurau.

Samuel, salah satu penduduk Desa Ende menjelaskan, rumah adat di desanya disebut Bale Tani, menggambarkan matapencaharian seluruh penduduk desa yang dihuni 30 keluarga kepala keluarga. Seperti pada umumnya rumah adat Suku Sasak, bagian depan dibuat rendah, sehingga tamu yang datang harus menundukan kepala. Filosofinya, tamu datang meyatakan permisi dan menunjukan hormat pada tuan rumah.

Di Ende, semua lantai rumah masih dari tanah yang sudah dipoles kotoran sapi dan bebek. Samuel menjelaskan, kotoran itu berfungsi seperti semen dan bisa mengusir nyamuk. Bau? Tidak sama sekali. “Setelah kering tidak akan tercium bau. Ada penelitian yang bahkan menyebutkan, tidur di lantai kami bisa mencegah serangan stroke,” ujar Samuel sembari menambahkan, untuk dinding menggunakan bahan bambu, sehingga sejuk di waktu siang dan hangat di malam hari.

IMG_6333Siang itu, wisatawan yang datang ke Desa Ende cukup banyak. Sayup-sayup terdengar alunan musik tradisional. Tamu diajak masuk lebih dalam, melewati halaman-halaman rumah yang dipenuhi hamparan bulir padi yang tengah dijemur. Beberapa saat kemudian, tampak halaman luas dengan balai yang dipenuhi pemusik. Beberapa pemuda memberi penjelasan kepada wisatawan. Satu di antaranya menggunakan pengeras suara, menjelaskan berbagai alat musik tradisional, salah satunya gong-gong , alat musik kecil yang dibuat dari pohon enau, dimainkan penuh perasaan dengan tiupan dan tarikan napas.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Perisai. Juri muncul mengenakan pakaian adat, melakukan tarian, dan kemudian masuk dua pemuda bertelanjang dada dengan kain dan ikat kepala khas Suku Sasak. Mereka memegang perisai dan penggebuk. Tari perang pun dimulai, diiringi musik, saling serang, ditengahi juri. Atraktif dan suasana kian hidup. Wisatawan nusantara dan mancanegara sibuk mengabadikan dengan kamera dan video.

Desa Ende memainkan musik dan tari di setiap hari untuk menyambut wisatawan, dengan biaya sukarela melalui saweran usai pertunjukan. Wisatawan juga bisa memberi tips pada pemuda-pemuda yang menjadi pemandu wisata.
Ketika waktu merangkak memasuki malam, suasana desa yang berdiri sejak 1939 itu terlihat lebih sepi dan tenang, tanpa penerangan listrik. Para lelaki duduk santai berbincang serta minum kopi di balai panjang yang berdekatan dengan jalan raya.

Desa Sade
Inilah desa adat yang mungkin tertua dan paling terkenal di dunia pariwisata Lombok. Lokasinya tidak jauh dari Desa Ende, tepat di pinggir jalan raya. Meski sudah tersentuh listrik, namun Desa Sade yang ada sejak 1079 itu tetap memegang teguh adat.

IMG_6424Memasuki pintu gerbang, pandangan langsung disuguhi warna-warni kain tenun. Di bangunan tradisional yang berfungsi sebagai pendopo besar terbuka, tampak ibu-ibu tengah menenun. Hapir di setiap halaman rumah bisa dijumpai kain tenun, gelang, topeng, pahatan, dan aneka suvenir khas Lombok.

Wisatawan dipersilakan mengisi buku tamu dan jika berkenan membayar administrasi secara sukarela. Pemuda desa sudah siap menyambut, memberi penjelasan. Mereka akan menerangkan dengan detail, mulai dari pembuatan rumah adat hingga jenis bangunan. Pun dijelaskan bagaimana padi di lumbung bisa bebas dari serangan tikus maupun hewan lain, hanya dengan memasang tiang dengan piringan kayu di atasnya sebagai penyangga bangunan utama lumbung. Hariyadi, salah satu pemuda yang menjadi pemandu juga menjelaskan adat pernikahan antar-sepupu untuk memererat tali persaudaraan.

Desa Sade dihuni sekitar 150 kepala keluarga dengan mata pencaharian utama bertani. Kaum perempuan membantu keuangan keluarga dengan cara menenun. Kain tenun di Desa Sade dibuat dari benang kapas yang dipintal sendiri, dan menggunakan warna-warna alami. Oranye dari kapur sirih, kuning dari kunyit, biru dari daun taum, merah dari kayu lake, biru tua dari daun kenyeling.

Semua perempuan di Desa Sade dipastikan akan belajar menenun. Siang itu, anak-anak tengah belajar menenun dengan medium daun yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai inti dari alat tenun. Sangat menarik. (D-1)
INFO
Desa Adat Ende
Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah
Waktu tempuh sekitar 1 jam dari Kota Mataram
Pertunjukan musik dan tari ada setiap hari, pukul 09.00 – 17.00 (biaya sukarela)
Jika ingin mendapat sambutan khusus musik dan tari dari pintu gerbang utama, bisa dipesan dengan biaya Rp700.000.
Kontak: Pak Indra (085338553773)

Desa Adat Sade
Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah
Sekitar 10 Menit dari Desa Ende
Jika ingin mendapat sambutan khusus berupa pertunjukan musik dan empat tari khas Desa Sade sekitar Rp1 juta.
Kontak: Hariyadi (081916853003)

Menyerap Kearifan Suku Sasak
Bagaimana artikel ini menurut Anda?