Select Page

DANAU Toba memang memesona. Apalagi ketika berpadu dengan kesuburan alam Pulau Samosir. Airnya seakan luas tak bertepi, hanya berbatas cakrawala. Matahari, bulan purnama, pepohonan, kabut, dan kesejukan udara membentuk harmoni memabukan. Setiap jam di Pulau Samosir dan Danau Toba menawarkan keindahan berbeda. Cobalah berjalan atau berkendara di pagi hari . Saksikan kilau air, sebaran sinar matahari yang mengintip di sela pepohonan, dan warna kuning keemasan yang menyeruak memesona. Saat berkabut pun menyodorkan pemandangan indah berselimut misteri. Di siang hari, kilau air bak pendar permata. Di sore hari, matahari alam kembali berduet dengan Bumi Samosir dan isinya. Terkadang warna lembayungnya begitu indah, sebelum meredup membentuk siluet. (Baca juga itenerary, Tips & akses)

Berikut beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi:

IMG_1128Menara Pandang Tele
Menara Pandang Tele merupakan salah satu tempat untuk melihat keindahan Danau Toba dari ketinggian. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota Samosir, sekitar 20 hingga 30 menit perjalanan. Dari Bandara Silangit butuh waktu kurang lebih sekitar dua jam. Inilah surga bagi penyuka keindahan alam dan fotografer.

Ada banyak tempat yang bisa digunakan untuk memanjakan mata dan membidik dengan kamera. Pertama tentu naik ke menara pandang yang terdiri dari tiga tingkat. Dengan membayar retribusi sebesar Rp2.000, wisatawan bisa menikmati keindahan alam dari berbagai sudut ketinggian. Cara lain, cukup dari beranda yang disediakan di sekitar menara pandang, lengkap dengan pagar pengaman, karena letaknya tepat di bibir lembah kawasan tersebut.

Percayalah, Anda akan terpesona. Memandang hijau alam, tebing tinggi, lembah, pebukitan, Danau Toba, serta kucuran Air Terjun Effrata dari kejauhan. Ketika kabut turun, keindahan alam tidak berkurang. Bedanya, pepohonan seakan terlilit kabut, menyeruakan kesan misterius.

Lelah memandang, silakan menikmati suasana sembari beristirahat di satu warung yang ada di dekat menara pandang. Menyeruput teh, kopi, dan menikmati makanan kecil.

IMG_0905Sipinsur
Selain Menara Pandang Tele, jika datang ke Samosir melalui Bandara Silangit, ada satu objek wisata hampir serupa bernama Sipinsur, terletak di Desa Pearung, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Dari Silangit butuh waktu tempuh sekitar 30 menit.

Dari ketinggian Sipinsur, wisatawan dapat menikmati pemandangan Danau Toba. Memotret, duduk santai sembari memandang alam dan menikmati semilir angin. Sungguh, suasananya bisa membelai hati dan mengusir lelah yang mungkin bergelayut selama perjalanan.

IMG_1248Museum Simanindo & Hutabolon
Ini bukan sekadar museum, tetapi juga menawarkan atraksi seni budaya khas Batak. Wisatawan yang datang bisa melihat rumah adat, mendengar kisah, dan berinteraksi serta menari bersama.

Tempat itu merupakan peninggalan dari raja Sidahuruk dan mulai dioperasikan sebagai museum sejak 1969.Dari Pangururan (pusat kota Samosir), museum tersebut bisa dicapai sekitar 45 menit berkendara. Begitu memasuki halaman museum, langsung terlihat deretan rumah adat khas Batak.

Dari halaman utama ada jalanan berbatu yang sudah ada sejak zaman dulu, menuju satu tanah lapang dengan beberapa rumah adat dan deretan tempat duduk batu berbentuk setengah lingkaran. Di situlah pertunjukan tari khas Batak dipentaskan.setiap hari pukul 10.30 dan jika ramai wisatawan ditambah pementasan kedua pukul 11.45.

Sangat menyenangkan mendengar musik tradisional berkumandang, dan menyaksikan tarian yang dibawakan lebih dari 10 orang, lengkap dengan ulos dan kerbau yang dibawa dan diikat di sebuah pohon. Menjelang akhir tarian, wisatawan diajak menari dengan kalungan ulos. Setelah itu, Sigale-Gale dikeluarkan, dan pengunjung bisa memberi sumbangan sukarela di tempat yang sudah disediakan.

Museum Simanindo & Hutabolon
Lokasi: Jl Pelabuhan Simanindo, Simanindo Sangkal, Kabupaten Samosir
Buka: 09.00 – 17.00
Jadwal pertunjukan: 10.30 (setiap hari) dan tambahan ketika ramai pukul 11.45
Tiket masuk: Rp5.000/orang

IMG_1327IMG_1327Batu Kursi Persidangan Siallagan
Sekitar 20 menit dari museum, terdapat kampung adat yang dikenal dengan sebutan Batu Kursi Persidangan Sialagan. Lokasi objek wisata itu tidak jauh dari Tomok mau pun Tuk Tuk, dua wilayah yang dikenal banyak wisatawan yang datang ke Samosir.

Masuk ke kawasan Batu Kursi Persidangan Siallagan harus melewati pintu kecil yang hanya muat dua orang berpapasan. Begitu masuk terpampang deretan rumah adat. Sebagian di bawah, sebagian lagi di tanah yang lebih tinggi. Di antara rumah adat bagian bawah terdapat batu-batu berusia ratusan tahun yang menurut kisah menjadi tempat persidangan bagi masyarakat yang melakukan kesalahan. Rangkaian batu berbentuk kursi dan meja itu berada di bawah pohon, dan di salah satu sisinya menjadi tempat pemasungan bagi terhukum.

Jika terbukti dan dianggap bersalah, maka tahanan akan digiring ke lokasi eksekusi yang juga terbuat dari batu. Konon, hukuman eksekusi yang dikenakan adalah penggal kepala. Ketika dipenggal, darah terhukum akan diminum.

Di areal eksekusi terdapat deretan tempat duduk untuk wisatawan yang ingin beristirahat. Masih di areal yang sama, wisatawan bisa membeli oleh-oleh di toko suvenir.

Batu Kursi Persidangan Sialagan
Lokasi: Huta (Kampung) Siallagan, Ambarita, Simanindo, Samosir
Buka: 09.00 – 17.00
Tiket masuk: Rp2.000/orang

IMG_1413Makam Raja Sidabutar
Pernah dengar kisah Sigale-Gale, boneka kayu yang konon bisa bergerak, menari sendiri? Di Tomoklah tempat boneka itu berada, tepatnya dalam satu rangkaian wilayah Makam Rasa Sidabutar yang usianya sudah lebih dari 460 tahun. Sigale-gale yang diletakkan di deretan rumah adat itu, kini lebih sering digunakan sebagai atraksi wisata. Sayangnya, belum ada jadwal tetap pertunjukkan. Wisatawan yang datang bisa langsung menyaksikan Tari Sigale-Gale dengan membayar sekitar Rp100 ribu. Terkadang ketika ramai wisatawan, Tari Sigale-Gale dipentaskan dan wisatawan bisa membayar sukarela atau sesuai kesepakatan.

Dari deretan rumah adat dan Sigale-gale, silakan berjalan kaki menuju Makan Raja Sidabutar, melewati gang kecil yang kedua sisinya dipenuhi jajaran kios suvenir. Masuk ke areal makam harus melalui beberapa tangga dan wisatawan diminta mengenakan ulos. Begitu masuk, tampak deretan makam batu berjajar rapi, mulai dari yang tertua hingga terbaru
ditandai dengan salib. Untuk mengetahui kisah dari raja-raja yang dimakamkan, tersedia pemandu wisata. Mereka akan menceritakan berbagai kehidupan dan kesaktian beberapa raja Batak yang terkenal.

Untuk melihat Makam Raja Sidabutar tidak dikenai retribusi. Meski demikian, wisatawan diharapkan memberi uang jasa sukarela untuk pemandu yang dijalankan oleh masyarakat setempat.

Makam Raja Sidabutar
Lokasi: Desa Ambarita, Simanindo, Samosir
Buka: 09.00 – 17.00

IMG_1540Air Terjun Effrata
Air terjun ini letaknya tidak jauh dari Menara Pandang Tele, sekitar 20 hingga 25 menit berjalan kaki. Wisatawan biasanya berhenti di Menara Pandang Tele, melihat guyuran air terjun dari kejauhan. Jika fisik siap, sayang melewatkan kesempatan untuk melihat dari dekat dan merasakan kesejukan Air Terjun Efrfata yang bisa ditempuh sekitar 20 menit berjalan kaki dari menara pandang.

Pantai Parbaba & Situngkir
Pemandangannya memang mirip pantai, meski sebenarnya hamparan luas berbatas cakrawala itu adalah air danau. Objek wisata yang disebut pantai itu dilengkapi dengan pasir, payung-payung untuk berteduh, dan berbagai permainan air, mulai dari sepeda air, banana boat, hingga jet ski. Dua pantai itu tengah dikembangkan dan ditata oleh Pemda Kabupaten Samosir.
Danau di Atas Danau
Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba memiliki beberapa danau yang menjadi tempat tujuan wisata. Orang-orang menyebutnya danau di atas danau. Ada Danau Sidihoni, Sipaleonggang, dan Natonang. Objek wisata danau itu masih minim akses dan fasilitas, cocok bagi wisatawan yang senang melakukan petualangan.

Gereja Inkulturatif
Merupakan gereja Katolik di Samosir yang menggunakan arsitektur khas Batak. Unik, berdiri megah di tanah luas dengan bagian bawah bangunan berupa museum yang menyimpan berbagai benda bersejarah masyarakat Batak. Selain Gereka Inkulturatif, ada juga Gereja HKBP Pangururan. Gereja tua yang sempat terbakar habis pada 2011 itu, kini kembali berdiri dengan arsitektur khas.

Batu Sawan
Batu Sawan terletak di lembah atau kaki Gunung Pusuk Buhit. Konon, air yang mengisi cekungan besar batu itu digunakan sebagai pemandian suci para raja. Hingga sekarang masih dianggap sakral oleh masyarakat Batak. Uniknya, air di cekungan itu memiliki rasa jeruk purut. Batu Sawan terletak kurang lebih 15 km dari pangururuan, pusat kota Samosir.

Batu Hobon
Terletak di kaki Gunung Pusuk Buhit. Legenda Suku Batak menyebutkan, batu itu merupakan tempat penyimpanan harta benda Raja Batak. Bentuk batunya memang unik, di bagian atas terbelah seperti tutup. Konon, hingga saat ini tidak ada yang bisa menggeser penutup batu tersebut, meski sudah menggunakan alat berat. (D-1)

Objek Wisata di Pulau Samosir
Bagaimana artikel ini menurut Anda?