Select Page

Pergerakan wisatawan Muslim dunia terus meningkat. Implementasinya pada bisnis yang kini kian dilirik banyak negara. Di posisi mana Indonesia?

BISNIS terkait halal style atau gaya hidup halal tumbuh luar biasa di seluruh dunia. Potensi  sektor ini terus dilirik banyak negara. Global Muslim Travel Index 2015 yang dikeluarkan Master Card dan CrescentRating menyebutkan, populasi Muslim diperkirakan akan mencapai 26,5% dari seluruh populasi dunia pada 2030.

Dalam dekade terakhir, konsumen Muslim mempercepat pertumbuhan bisnis makanan halal, perbankan syariah, dan sektor gaya hidup. Sebagian besar konsumen berusia muda, berpendidikan, berpendapatan besar, dan suka bepergian.

Survei menunjukan, pada 2014 tercatat 108 juta wisatawan Muslim dengan perputaran US$ 145 miliar atau mewakili 10% dari seluruh perekonomian terkait perjalanan. Diperkirakan angka tersebut akan tumbuh menjadi 150 juta wisatawan Muslim pada 2020, dengan proyeksi pengeluaran tumbuh mencapai US$ 200 miliar.

CrescentRating, Penelitian Wisatawan Muslim

CresentRating telah melakukan penelitian dan survei sejak 2011. Pada 2015, penelitian lebih komprehensif dilakukan bekerjasama dengan MasterCard.  Penelitian yang melibatkan negara-negara  organisation of Islamic Cooperation (OIC) dan non OIC tersebut memasukkan tiga kriteria besar yang kemudian dibagi dalam beberapa subkriteria. Pertama  terkait kesesuaian destinasi bagi wisatawan muslim, keramahan, dan keamanan, kedua keramahan layanan serta fasilitas di tempat tujuan wisata, ketiga terkait halal awareness dI dalam masyarakat.

Hasilnya? Untuk negara anggota OIC, Malaysia sejak 2011 bercokol di urutan pertama. Pada 2015 mendapat skor tertinggi 83,8, diikuti Turki 73,8, dan UEA 72,1. Meski Malaysia dan Turki sudah memiliki keuntungan terkait fasilitas ramah wisatawan Muslim, namun penilaian juga mencakup kriteria pembuatan strategi, kebijakan, dan komitmen  yang jelas untuk memaksimalkan daya tarik bagi wisatawan Muslim. Pada 2014, Malaysia dan Turki menarik 13% dari total wisatawan Muslim.

Untuk negara non-OIC, Singapura menduduki urutan teratas. Negara itu memberi tawaran beragam dan terbaik dalam makanan dan lingkungan halal. Pemerintahnya pun serius menggarap sertifikasi halal. Tidak mengherankan jika beberapa subkriteria di antaranya mendapat nilai lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara anggota OIC.

Negara non-OIC lain yang belakangan serius menggarap sektor ini adalah Taiwan dan juga Jepang. Dua negara itu melakukan adaptasi dan mulai serius mengimplementasikan dalam kebijakan pariwisata.

Makam Sunan Gunung Jati

Makam Sunan Gunung Jati (arsip Destinasi Indonesia)