Select Page

AKSINYA memandu acara petualangan di layar kaca beberapa tahun silam, berhasil membuat penonton ingin pergi  menjelahi destinasi tanah air. Kini Riyanni Djangkaru aktif mengampanyekan gerakan #saveshark dan menjadi pembicara di berbagai seminar lingkungan, tanpa mengabaikan hobi fotografinya. Public figure yang memutuskan berpindah domisili ke Bali itu berpendapat, objek alam, manusia, maupun makhluk hidup membuat dia tertantang dalam berinteraksi dan menggali emosi, sehingga lebih mudah menghidupi cerita atau pesan dari momen yang dia ambil.

 

Destinasi favorit?

Setiap perjalanan selalu ada sudut pandang yang baru serta cerita yang berbeda sekalipun itu tempat yang sering saya kunjungi, seperti Jogja dan Bali. Sejauh ini destinasi yang mempunyai kesan menarik buat saya di antaranya Aceh, Indonesia Timur, dan Bali. Adat masyarakat masih kuat. Dalam setiap perjalanan, kita juga mampu belajar bagaimana mendengar dan merespon lingkungan sekitar.

 

Jika ditantang membuat acara pariwisata apa yang akan dibuat?

Saya tertarik untuk mengadakan perjalanan sesuai dengan literatur sejarah karena wawasan nusantara kita berkaitan dari tempat satu ke tempat yang lain. Perjalanan akan mengajak ahli sejarah, orang lokal, ahli botani, maupun ilmuwan lain. Misalnya jalur Wallace yang mengikuti rute migrasi pari manta. Perjalanan dikemas dengan eduwisata. Seperti yang telah dilakukan sebelumnya membuat pendataan hiu sambil menyelam dan mengadakan pembekalan dari ilmuan dan Non-Government Organization. Harapannya abisa membangun kesadaran dan memberi dampak baik bagi warga lokal.

 

Bagaimana pariwisata Indonesia sekarang?

Indonesia banyak tempat-tempat premium. Namun masih banyak pula yang belum diperhatikan pengelolaannya. Misalnya daya tampung yang seringkali melebihi kapasitas ataupun pengelolaan sampah yang kurang diperhatikan. Padahal hal tersebut juga merupakan cara menjaga umur destinasi tetap panjang dan tetap dapat dinikmati.

 

Harapan untuk pariwisata Indonesia?

Menurut saya penting untuk semakin diperbanyak segmented tourism, misalnya naik gunung, diving, paralayang, dll agar fokus kegiatannya mejadi terarah dan beragam bukan hanya berbondong-bondong ke suatu destinasi yang hits dan melupakan esensi traveling itu sendiri. Aturan-aturan pemerintah untuk tempat-tempat yang banyak dikunjungi juga harus lebih mengutamakan lingkungan dan etika berwisata para pengunjungnya agar keorisinilan tetap terjaga. Ketika berani memromosiakan secara besar-besaran maka etika berwisata para pengunjungnya juga harus lebih diperhatikan agar destinasi tersebut berumur panjang. (CH/D-1)