Select Page

Keindahan dan keunikan Pantai Ora membuat saya bersyukur dilahirkan di negeri penuh keajaiban.

KECANTIKAN Ora, Seram Utara, Maluku kerap kali terdengar. Laut biru, Tebing Batu, dan pondok mengambang di tengah laut. Maka, ketika saya punya kesempatan pulang ke kampung halaman Saparua, Maluku, destinasi itu menjadi agenda.

edisi 24 gunung ranausi

Waktu menunjukkan pukul 18.30 di Desa Saleman yang menjadi poin utama perjalanan ke berbagai objek wisata seputar Pantai Ora Pulau Seram. Langit jingga menyelingkupi desa, ketika saya duduk di dermaga Saleman, mengarahkan pandangan ke Pegunungan Roulessi. Saya menantikan Luusiala, burung keramat yang dipercaya sebagai pelindung desa. Penduduk  setempat mengatakan,  burung keramat itu tak pernah tertangkap kamera. Selalu keluar dari gua di tebing bukit yang pada pukul 18.30.

Benar saja, tak lama ribuan kawanan Luusiala keluar membentuk formasi indah, bagaikan naga yang meliuk-liuk di langit dan menghilang di kejauhan. Tak pernah ada yang tahu, kemanakah burung keramat tersebut pergi. Sungguh, buat saya itu pemandangan luar biasa.

#

Desa Saleman, menjadi gerbang pembuka untuk mengeksplorasi kecantikan Ora, Seram yang namanya begitu populer belakangan ini. Kawanan Luusiala hanya satu dari sekian banyak atraksi alam yang bisa dinikmati. Dari Saleman, saya berangkat ke Pantai Ora yang hanya berjarak 10 menit. Tak sabar rasanya untuk memulai kisah saya sendiri tentang Ora Beach.

Tebing Batu

Dini hari, dari Pantai Ora perjalanan pun dimulai. Ditemani penduduk lokal Pak  Iqbal, 40, dan Pak Teko, 41, kami naik perahu motor menuju perairan Teluk Saleman. Di tengah laut, mesin perahu dimatikan. Langit masih gelap, dengan sabar kami menunggu sang Surya bangun dari peraduan.

Sembari menunggu, Pak Teko berkisah tentang berbagai legenda dan kepercayaan masyarakat lokal. Katanya, penduduk desa percaya, burung Luusiala adalah peindung desa. Jika tidak lagi ke luar gua, maka menjadi pertanda buruk bagi warga. Salah-satunya, saat tragedi kerusuhan Maluku beberapa tahun lalu. Sebelum peristiwa, tidak ada satu pun Luusiala keluar dari gua.

edisi 24 ora beach resort

Cerita terhenti ketika Lukisan keemasan di langit mulai terlihat. Begitu indah, menenangkan, dan membawa kehangatan. Deretan pegunungan yang membentengi Teluk Saleman berlahan mulai terlihat jelas. Kegagahan Gunung Hatusaka, sebagai ‘Sang Komandan’ dari deretan pegunungan tersebut menampakkan diri. Dari kejauhan tampak deretan pondok-pondok penginapan Ora Beach Resort tempat saya menginap.

Setelah puas menikmati sunrise, saya bergeser menuju Tebing Batu, salah-satu spot favorit di perairan Teluk Saleman. Lokasinya hanya 5 menit dari lokasi melihat matahari terbit atau 15 menit dari Ora Beach Resort.

Sebuah tebing berbatu menjulang  tinggi langsung berhadapan dengan perairan (tanpa pantai). Terlihat indah dan unik. Disinilah, lokasi favorit para wisatawan yang ingin snorkeling. Penduduk setempat membuat pondok kecil beratap jerami di atas laut untuk memudahkan pengunjung beristirahat. Kapal bisa disandarkan di samping pondokan. Ketika matahari kian meninggi,  pantulan terumbu karang membayang indah. Tak lagi membuang waktu, saya memasang alat snorkeling, dan langsung menceburkan diri untuk melihat keajaiban alam Ora.

Lautnya begitu tenang, terumbu karang tumbuh subur, lengkap dengan berbagai jenis ikan. Saya menyiapkan roti, ketika remahan buyar di perairan, ikan-ikan kberlomba mendekati. Apalagi yang bisa saya katakan? Tak henti-henti saya terpesona.

Usai itu, saya berenang  mendekati tebing karst. Uniknya, terdapat cela yang bisa dilalui hingga sejauh 10 meter. Ketinggian air hanya sepinggang hingga ujung buntu celah tebing. Luasnya sekitar 1 meter dengan ketinggian tebing 15 meter. Di bagian dalam, terpampang sarang-sarang burung walet. Kicauannya meningkahi debur ombak. Pengalaman yang begitu menyenangkan.

Pondok Mengambang

Ora Beach Resort di Pantai Ora, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Resort itu terletak di kaki pegunungan Teluk Saleman. Pondok penginapannya bergaya tradisional, beratapkan jerami, dan dibuat menjorok d iatas laut, hingga terlihat seperti mengambang di atas permukaan air. Ada tujuh pondok penginapan yang ditawarkan.

Untuk menjangkau tempat itu cukup mudah. Dari Kota Masohi Seram, anda bisa menyewa mobil menuju Desa Saleman. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5-3 jam. Selama perjalanan Anda akan disuguhi pemandangan perbukitan indah.  Dari Desa Saleman, Ora Beach Resort bisa dicapai dengan menyewa kapal dengan lama perjalanan sekitar 10 menit.

edisi 24 ora beach resort 2

Saya menginap di salah-satu kamar di atas laut. Inilah tempat untuk benar-benar bisa beristirahat. Dari balkon bisa langsung memandang lautan Teluk Saleman dan deretan Pegunungan Roulessi. Di bawah balkon terpampang terumbu karang dan ikan-ikan yang bebas bermain dengan tenang. Snorkeling dapat dilakukan begitu keluar dari balkon. Bagi pasangan bulan madu, nikmati juga dinner romantis di tempat yang tenang dan nyaman ini. Nikmati juga pasir halus di sepanjang Pantai Ora.

Makan pagi, siang dan malam disiapkan Ora Beach Resort, bisa dinikmati di kamar atau pun pondok makan yang juga dibangun menjorok ke laut. Ingin menikmati lobster, tidak sulit. Makanan eksotis itu dijajakan nelayan lokal dengan harga murah.

Memasuki pukul 14.00, pemandangan di Ora Beach Resort berubah drastis. Karena terletak di kaki pegunungan, pada jam itu kabut mulai jatuh. Pemandangan unik yang bisa membuat Anda malas beranjak, malas memulai lagi rutinitas sehari-hari.

Mata Air Belanda

Saya penasaran dengan Mata Air Belanda. Lokasinya sekitar 5 menit perjalanan dari Ora Beach Resort. Hamparan pantai landai berpasir halus menyambut kedatangan wisatawan. Siang itu, rombongan wisatawan dari Jakarta tengah asyik bermain pasir dan air. Dari bibir pantai, terlihat aliran sungai membelah pantai, langsung bertemu dengan air laut. Suhu air begitu dingin dan menyegarkan. Inilah yang memunculkan sensasi unik. Kesejukan airnya kontras dengan udara panas pantai.

edisi 24 karang air mata dkt belanda 1

Dari bibir pantai, saya menelusuri sungai menuju Mata Air Belanda. Air sungainya tidak dalam, hanya setinggi lutut orang dewasa. Alurnya terus menjorok ke hutan, ditingkahi pepohonan. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari bibir pantai. Aliran Mata Air Belanda membentuk kolam kecil. Konon, pasukan Belanda yang ada di Saleman menjadikan mata air ini sebagai tempat mandi. Lagi-lagi airnya dingin menyegarkan.

edisi 24 destinasi ora karang mata air dkt belanda 6

 

Petualangan di Mata Air Belanda Belum usai. Dakilah bebatuan tinggi di pinggir pantai agar bisa menikmati landscape Teluk Saleman sekaligus pegunungan. Di atas bebatuan berdiri pondok kecil untuk beristirahat sekaligus berfungsi sebagai gardu pandang. Penduduk lokal siap menawarkan kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon. Menyeruput kelapa muda sembari memandangi kecantikan yang ditawarkan Pulau Seram, sungguh sebuah kemewahan. Begitu bersyukur dilahirkan di negeri indah ini. (Teks & Foto: Siska Nurifah/D-1)

 

Satu Kisah Tentang Kecantikan Ora
5 (100%) 2 votes


Also published on Medium.