Berlibur keluarga bisa dilakukan kemana saja. Seperti  yang dilakukan oleh keluarga Eni Rohaini dengan mendaki Gunung Papandayan, Garut.

edisi 25 liburan keluarga yeni 5

IDE liburan bisa muncul begitu saja ketika tengah berkumpul bersama keluarga besar. Itulah yang terjadi, ketika beberapa keluarga bertemu di Garut saat long weekend awal Mei 2016. Dari bincang-bincang santai, empat keluarga sepakat untuk berwisata ke Gunung Papandayan, Garut.

Maka, rencana pun dibuat. Jarak antara Kota Garut ke kaki Gunung Papandayan sekitar satu jam perjalanan. Kami berangkat agak terlambat, matahari sudah mulai meninggi. Sekitar pukul 10.30, dua mobil beriringan. Empat keluarga terdiri dari sebelas orang dewasa, tiga remaja, dan dua anak-anak. Semua bersemangat.

Pemandangan sepanjang perjalanan terasa menyegarkan, melewati sawah, kebun, dan rumah-rumah asri khas pedesaan. Makin ke atas, udara kian segar. Sayang, cuaca kurang mendukung, matahari tertutup awan, tanda akan turun hujan. Mendekati pintu masuk Gunung Papandayan, jalanan rusak parah. Untunglah setelah berjuang, termasuk mendorong mobil di tengah guyuran gerimis, akhirnya kami sampai juga di tujuan. Di pos penjagaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang, pengunjung dikenai retribusi. Tiket masuk Rp7.500/ orang, ditambah asuransi Rp2.000, dan Rp15 ribu untuk kendaraan roda empat.

Melewati pos penjagaan, kami diminta mendatangi satu pos lagi untuk mendaftar jika ingin mendaki. Entah mengapa, di tempat itu dikenai lagi biaya parkir kendaraan sebesar Rp20 ribu, ditambah biaya kebersihan Rp3.000/orang.

Akhirnya, kendaraan bisa diparkir di tanah lapang yang dikelilingi tebing. Indah, sayang pengambilan gambar tidak bisa maksimal karena terhalang deretan kendaraan. Hujan masih juga rintik, ketika kami memutuskan berkumpul di salah satu warung yang berjajar di sepanjang jalan masuk menuju lapangan parkir. Sebagian berburu sweater dengan harga sangat terjangkau, sebagian lagi menyeruput kopi dan teh manis, ada juga yang membeli cilok, jajanan khas Sunda.

Mendaki

edisi 25 liburan keluarga yeni 2

Hujan masih terus turun. Terkadang rintik, terkadang lebat, dan tidak jarang berhenti. Kami bersiap mendaki, lima dewasa, tiga remaja, dan satu anak-anak. Semua mengenakan jas hujan berbahan plastik tipis yang dibeli seharga Rp10 ribu/item. Langit masih juga kelabu.Saat hujan lebat reda, pendakian pun dimulai, ditemani gerimis kecil.

Jangan membayangkan tanah licin berlumpur. Medan di Gunung Papandayan terdiri dari bebatuan. Titik awal pendakian tidak jauh dari lapangan parkir. Sesuai dengan informasi yang didapat. Sekitar 15 menit perjalanan, dari jauh tampak sembulan payung dengan warna cerah. Semula kami kira itu payung yang dibawa pendaki karena hujan. Namun, percaya atau tidak, ternyata payung besar yang menaungi penjual bakso, gorengan, dan kopi.

Kami terus mendaki, sekitar 20 menit kemudian tiba di tanah datar berbatu. Dari situ, tampak kepulan belerang, aliran air hangat, dan juga tebing-tebing tinggi. Semua beristirahat sejenak menenangkan napas dan tentu berfoto-ria. Kami sempat terpana, ketika menyaksikan ibu-ibu penduduk lokal, jalan dengan santai, tanpa beban dengan napas tetap teratur.

edisi 25 liburan keluarga yeni 4

Selain itu, beberapa pemuda datang menggunakan motor trail. Setelah beristirahat kurang lebih 10 menit, perjalanan pun dilanjutkan. Tujuan utama adalah Kawah Papandayan. Anak-anak terlihat tetap bersemangat, meski ada yang mulai mengeluh pandangan berkunang-kunang. Masing-masing saling menyemangati.

Beberapa pendaki yang berpapasan juga ikut memberi semangat. Sekitar 25 menit berjalan, tibalah di tanah datar dengan satu plang bertuliskan, “Anda berada di lokasi Kawah Papandayan.” Kami sibuk berfoto sembari menikmati pemandangan dan uap belerang yang membumbung di angkasa. Tiga remaja kami, Aliqa, Kinara, dan Dea memasang gaya dengan tangan di dada. Mereka langsung posting foto di media sosial.

Maklum, sinyal di kawasan kawah justru kuat, sedangkan di lapangan parkir malah menghilang. Setelah cukup beristirahat dan berfoto, muncul perdebatan, apakah pendakian akan dilanjutkan menuju puncak. Beberapa pendaki memberi informasi tentang jalur yang lebih mudah dengan perkiraan waktu sekitar dua jam perjalanan. Tapi akhirnya diputuskan untuk turun dengan pertimbangan cuaca dan kurangnya persiapan.

Berkesan

edisi 25 liburan keluarga

Perjalanan turun juga berlangsung menyenangkan. Anak-anak berhenti di aliran sungai yang airnya hangat. Bermain sejenak, dan kemudian berjalan santai. “Ah nanti di sekolah bisa bilang sudah mendaki sampai kawah Gunung Papandayan,” ujar Kinara, disambut senyum dua sepupunya.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke rumah makan yang menjual sate ayam dan sapi. Makan dengan lahap, dan mensyukuri perjalanan yang berawal dari spontanitas itu. Mungkin nanti kami akan mengulang perjalanan dengan persiapan lebih matang. (Teks: Eni Rohaini, Foto: Lintang)

 

 


Also published on Medium.