Select Page

Bagaimana menurutmu keberadaan Tugu Nama Bromo di Lautan Pasir dan Sabana Bromo? Menambah indah atau justru mengganggu pemandangan?

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan segera mengambil keputusan terkait protes pendirian tugu nama di lautan pasir dan sabana Gunung Bromo.
IMG_4270Pembangunan tugu nama di kawasan lautan pasir dan sabana Bromo, Jawa Timur menuai protes dari berbagai pihak. Di antaranya muncul surat terbuka yang ditujukan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Menteri Pariwisata. Surat terbuka tersebut dilayangkan Sigit Pramono, ketua Dewan Pembina Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI).

“Surat itu sudah mendapat tanggapan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sudah ada pertemuan dengan suasana sangat bersahabat karena semua yang hadir pada dasarnya memunyai kepentingan yang sama, yakni mengembangkan Bromo ke arah lebih baik,” ujar Sigit Pramono, mantan bankir yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama BNI dan kini menggeluti dunia fotografi. Bromo disebutnya sebagai salah satu tempat terindah di dunia.

Melalui pesan tertulis, Sigit menginformasikan, pertemuan tersebut dihadiri oleh Wiratno , Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, beberapa direktur di Kementerian LHK, Sigit Pramono sebagai ketua Dewan Pembina MFI, Kepala Balai Besar TNBTS John Kennedie, Ketua PHRI Probolinggo Digdoyo, Kepala Desa Jetak, dan Kepala Desa Ngadas, Bromo.

Terkait pembangunan tugu nama, Sigit diminta memberi masukan. Dia mengatakan, pada dasarnya pembangunan kawasan wisata Bromo harus selalu menjunjung dua prinsip utama, yakni prinsip konservasi untuk melindungi taman nasional dan prinsip menghormati kesakralan kawasan Bromo sebagai tempat yang disucikan masyarakat Tengger.

“Jika dua prinsip itu dipegang, maka seharusnya tidak ada bangunan permanen apapun, termasuk tugu nama di kawasan laut pasir dan sabana. Bangunan permanen yang boleh ada hanya tempat ibadah Pura Poten dan tempat sesajen magersari. Tetapi keputusan sepenuhnya saya serahkan kepada Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dirjen KSDA mengatakan akan segera memutuskan setelah mendengar masukan dari berbagai pihak,” tutur Sigit yang juga dikenal sebagai penggagas event tahunan Jazz Gunung Bromo.

IMG_1171Usulan Pengelolaan
Selain membahas masalah tugu nama di kawasan lautan pasir dan sabana, Dirjen KSDAE meminta masukan dari Sigit seputar pengelolaan wisata Bromo. Berikut beberapa usulan yang dikemukakan:
1. Membenahi area titik pandang (view point) di Pananjakan.
2. Membangun gerbang masuk terpadu secara komputerisasi di pintu masuk Cemoro Lawang Probolinggo , Dingklik /Tosari Pasuruan, dan Jemplang , Malang
3. Membatasi dan mengatur jumlah pengunjung pada jam-jam tertentu di Pananjakan dan mengalihkan ke kawasan lainnya.
4. Membangun jalur kendaraan bermotor di Laut Pasir dan Sabana yang diarahkan ke sisi tebing, agar setiap pengunjung tidak membuat jalur baru.
5. Mengembangkan titik pandang (view point) baru agar pada saat ramai konsentrasi pengunjung bisa dipecah tidak semua ke Penanjakan.