Select Page

Bintang-bintang yang tak tercemar cahaya lampu  terlihat  indah di langit malam Wae Rebo

Artikel oleh Ari Hendra Lukmana & Fitria Chaerani

TIDAK ada fasilitas mewah hotel berbintang, apalagi deretan bangunan yang menawarkan kemudahan-kemudahan ala kota besar. Meski demikian, Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur telah menjadi magnet dunia. Energinya menarik para pengunjung hingga melintasi benua.

Begitulah suasana di Wae Rebo. Penduduk setempat berbaur dengan wisatawan nusantara dan mancanegara. Siapa yang menyangka jika di pedalaman Flores yang butuh waktu dan perjuangan untuk mencapainya terdapat sebuah kampung internasional ?  Wisatawan dari berbagai negara bertemu dalam satu lokas,  tidur dan makan dalam satu atap Mbaru Niang. Demikian nama untuk rumah kerucut khas Wae Rebo.

Semenjak mendapatkan anugerah Award of Excellence dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO untuk kawasan Asia Pasifik, Kampung Adat Wae Rebo setidaknya telah dikunjungi tiga ribu lima ratus orang. Angka itu menjadi  penutup  penghujung  2014.

Khatarine, seorang turis asal Finlandia, rela meninggalkan moment Natal bersama keluarga untuk traveling ke Flores,  mengunjungi kampung yang namanya mulai sohor di daratan Eropa sejak penetapan UNESCO.  Begitu juga dengan para pengunjung dari berbagai Negara lain. Mereka menganggap Wae Rebo sebagai magnet yang tarikannya sulit ditolak.

Wae Rebo 2

Wajah Wae Rebo

Nama Wae Rebo memunyai makna mata air yang berarti sumber kehidupan. Wae Rebo secara fisik terdiri atas tujuh rumah adat yang disebut Mbaru Niang, berbentuk kerucut dengan diameter 12-15 meter, dengan ketinggian 8-12 meter. Bagian atap menjuntai hingga menutupi sebagian besar bangunan. Atap tersebut dibuat dari rumput khusus dan dilapisi ijuk agar lebih kuat jika diterjang angin dan air hujan. Wae Rebo  dibangun di atas Pegunungan Pocoroko dengan ketinggian 1100 mdpl , menghadap langsung ke samudera.

Dari sisi arsitektur, rumah adat Wae Rebo jelas unik.  Pemilihan lokas dan, pola susun rumah adatnya pun tidak biasa. Polanya melingkar dan tepat di tengah-tengahnya terdapat batuan yang disusun membentuk formasi lingkaran, kurang lebih setinggi setengah meter. Pada bagian lingkaran terdapat semacam altar yang terbuat dari bambu untuk meletakan sesembahan para leluhur. Susunan batuan itu disebut Compang dan digunakan untuk upacara adat.

Jika berkunjung sekitar  November, kita mungkin bisa mengikuti upacara Penti. Upacara pergantian tahun versi penanggalan adat Wae Rebo, sekaligus upacara untuk mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh yang Maha Penguasa. Upacara tersebut  menarik ,  selain ada pemotongan hewan kurban  besar-besaran, juga ditampilkan seni bela diri khas Manggarai. Pertarungan menggunakan cambuk yang sering disebut Caci.

Filosofi dan Leluhur Moro

Bentuk rumah adat Wae Rebo selalu dikaitkan dengan bentuk sarang laba-laba yang juga terjadi dalam pola pembagian sawah yang ditanami padi oleh Suku Manggarai. Pola pembagian sawah mengerucut dibagian tengah, dengan alur pembagian seperti petak-petak, mirip sarang  laba. Pola sawah seperti iu bisa ditemui saat perjalanan menuju Kota Ruteng, sebelum Wae Rebo.

Masyarakat Wae Rebo percaya bahwa nenek moyang mereka yang bernama Maro berasal dari Minangkabau, kemudian belayar menuju ke selatan dan akhirnya menemukan Pulau Flores. Setelah itu mereka mencari lokasi. Pertama kali menetap  di daerah Liho , dari Liho pindah ke Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu, setelah itu pindah ke pegunungan Poncoroko. Kedekatan budaya mereka dengan Suku Minang dapat dilihat dari bentuk rumah dan tradisi pernikahan  yang hampir sama.

Wae Rebo 3

Upacara Wae Lu’lu

Jika mengunjungi kampung adat Wae Rebo, pertama kali kita harus membunyikan kentongan, sebagai signal bahwa akan ada tamu masuk kampung. Seketika ketua adat akan mempersiapkan diri di rumah gendang atau rumah utama untuk melaksanakan upacara Wae Lu’lu. Rofinus Nompor,  generasi ke 18 pemangku adat Wae Rebo  akan  menyapa ramah dan mengajak bersalaman. Setelah itu upacara Wae Lu’lu dilaksanakan dengan membaca semacam mantra yang isinya doa-doa agar para leluhur melindungi para pengunjung selama berada di kampung hingga perjalanan pulang ke rumah masing-masing.

Senja hari, saat matahari mulai terbenam, udara di kampung Wae Rebo mulai dingin. Saat itulah kabut seolah menyelimuti kampung, sehingga seolah-olah kampung Wae Rebo berada di atas awan. Ketika  malam tiba, bintang-bintang yang tak tercemar polusi cahaya lampu  terlihat sangat indah di langit malam Wae Rebo. Terlihat dekat dan jelas.

Kondisi itu akan berubah drastis ketika pagi tiba. Matahari terbit menyembul menyinari sudut-sudut alam di sekitar kampung.  Perpaduan antara rumah adat dan hijaunya hutan yang menyelimuti gunung-gunung di sekeliling Kampung Wae Rebo semakin jelas. Kolaborasi apik yang jelas  akan memanjakan mata.

Aktivitas

Pagi hari, masyarakat Wae Rebo mulai melakukan aktivitas rutin. Sebagian besar dari mereka adalah petani kopi . Mereka menanam di bukit-bukit dengan ketinggian 1.000 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut. Selain menanam kopi, mereka juga menanam umbi-umbian yang sesungguhnya merupakan makanan pokok mereka sebelum mengenal nasi.

Setelah bertani di kebun, biasanya kaum wanita Wae Rebo mengolah kopi mereka seperti menumbuk biji kopi yang telah di sangria. Sebagian lagi mulai aktivitas menenun. Sedangkan kaum adam mengolah tanah untuk persiapan penanamam dan mencari bahan kebutuhan pokok dan menjual hasil bumi di pasar yang jaraknya mencapai 15 hingga 20 kilometer.

———

Artikel oleh Ari Hendra Lukmana & Fitria Chaerani untuk Majalah Destinasi Indonesia. Foto courtesy of Campa Tour & Travel; used with permission.


Also published on Medium.