Head Line
Menatap Bintang, Mengejar Matahari di Gunung Bromo
Gunung Bromo memiliki pemandangan tidak biasa. Kuda, lautan pasir, savana, kawah, dan deretan mobil-mobil jeep. Semua itu menciptakan suasana negeri antah-berantah.
Udara dingin, lautan pasir, taburan bintang, dan semburat terang matahari pagi menjadi ciri khas Gunung Bromo yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger, Semeru. Letaknya berdampingan dengan Gunung Semeru.
Saat pertama kali menjejakkan kaki di salah satu tempat menginap di Cemorolawang, kaki Gunung Bromo, suasana berbeda sudah sangat terasa. Kehidupan berdenyut lambat, santai. Di pelataran hotel, aktiitas hanya muncul dari penjual syal, sarung tangan, kaos kaki, dan kupluk. Mereka mendatangi setiap tamu, tak jemu menawarkan dagangan. Udara Bromo memang tidak biasa. Di sore hari, dinginnya mulai terasa, dan kian menusuk tulang seiring tenggelamnya surya. Suhu Udara bisa jatuh hingga 2 derajat celcius. Karena itu, jaket, kupluk, sarung tangan, syal, dan kaos kaki, menjadi perlengkapan wajib bawa.
Sebelum naik ke puncak dan kawah Bromo, wisatawan disarankan untuk menginap semalam. Maklum, aktivitas menjelajah biasanya dimulai sekitar pukul 02.00. Lebih dari jam itu, bersiaplah kecewa karena tertinggal semburat oranye matahari terbit sekaligus malam romantis bertabur bintang.
Mengejar matahari
Satu hal yang pasti, sunrise Bromo dikejar banyak wisatawan, baik mancanegara mau pun domestik. Mereka biasanya datang di siang hari, menikmati kehidupan desa dan bersihnya udara pegunungan, sebelum akhirnya menjalani petualangan utama, mengejar matahari, menikmati sunrise di puncak Penanjakan.
Kegiatan mengejar matahari biasanya dimulai paling lambat pukul 03.00. Di setiap penginapan rata-rata sudah memiliki paket wisata sendiri atau bekerja sama dengan penyewaan kendaraan jenis jeep hardtop. Kendaraan itulah yang digunakan untuk menempuh medan mengunjungi berbagai objek wisata di sekitar Bromo. Biasanya, paket perjalanan meliputi Penanjakan untuk melihat matahari terbit, Bukit Teletubbies, lautan pasir yang sejak menjadi tempat shooting kerap disebut seperti judul film yang dibuat, Pasir Berbisik, dan terakhir Kawah Bromo.
Jeep berhenti di lapangan parkir yang sudah disediakan di Penanjakan. Dari situ, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jika sudah kesiangan, penduduk menawarkan jasa ojek, agar tidak tertinggal momen utama Bromo.
Nikmati pendakian di dinginnya udara pagi. Sebelum mencapai gardu pandang, ada penjual minuman hangat seperti kopi dan teh. Setelah itu, bersiaplah melihat keindahan menakjubkan. Kegelapan langit sebelum matahari terbit bisa menyuguhkan suasana sangat romantis. Sembari duduk, nikmati taburan bintang di biru gelap langit malam. Terasa dekat, terasa indah, terasa syahdu, dan sungguh romantis.
Begitu matahari mulai menyembul, langit dihiasi warna kuning dan oranye. Perlahan, langit Bromo tersibak menunjukkan puncak kawah. Menakjubkan dan indah Keindahan matahari terbit Bromo populer hingga mancanegara. Pada musim liburan banyak pengunjung . Karena itu bergegaslah agar mendapat spot terbaik untuk menikmati sunrise. Saat matahari menyembul menerangi puncak Bromo dan Semeru, bersiaplah terpesona. Apalagi biasanya di puncak kedua gunung menggantung awan putih dan kabut. Jangan terus terpesona, hingga lupa memotret. Segera sadar dan ambil kamera.
Namanya sungguh romantis. Lautan pasir itu mendapat nama Pasir Berbisik pada 2001, setelah menjadi lokasi shooting film Pasir Berbisik arahan Garin Nugroho. Tapi rasanya nama itu memang cocok.
Sejauh mata memandang hanya terlihat pasir. Deru angin di atas pasir memunculkan bunyi-bunyian lembut. Rasanya cocok dengan nama yang disandang. Terkadang, angin membuat lautan pasir seluas 10 km itu terlihat bergelombang. Terkadang, begitu rata dan rapi. Lagi-lagi hanya kata menakjubkan yang bisa menggambarkan pemandangan itu. Sebelum menikmati Pasir Berbisik, pengunjung bisa datang ke padang savana yang biasa disebut Bukit Teletabbies.
Di musim kemarau, terlihat warna coklat kekuningan. Ketika mulai musim penghujan, padang savana berubah menjadi hijau, mirip permadani. Gundukan- gundukan tanah menjadikan savana mirip pemandangan di film Teletabbies
Kaldera Bromo
Kaldera atau kawah Bromo biasanya menjadi singgahan terakhir sebelum kembali ke penginapan. Lagi-lagi hamparan pasir melatari tempat parkir mobil-mobil jeep. Dari tempat parkir, pengunjung bisa berjalan kaki melintasi padang pasir menuju anak tangga yang membawa ke Kawah Bromo, atau menunggang kuda.
Menyewa kuda bisa menjadi pengalaman tidak terlupakan. Tidak mudah bagi orang awam yang belum pernah menunggangi hewan berkaki empat itu. Jalanan menuju anak tangga tidak selalu mendatar. Ada kalanya mendaki, menurun, dan berbatu. Meski sulit tapi mengasyikkan. Dari atas kuda bisa terlihat pemandangan tidak biasa. Hamparan dan gundukan-gundukan pasiri, lalu lalang kuda tunggang, pendudukdan wisatawan dengan jaket dan syal warna-warni, kain penutup mulut, deretan jeep, rasanya tidak seperti di Indonesia.
Gunung Bromo memiliki kawah dengan panjang sekitar 800 meter dari utara ke selatan dan 600 meter dari barat ke timur. Kandungan belerang yang ada di kawah tercium cukup tajam. Untuk dapat melihat keindahan, pengunjung harus menaiki 250 anak tangga. Naikilah anak-anak tangga dengan santai, atur napas, agar tidak cepat lelah. Sesampai di atas nikmati pemandangan Kawah Bromo,
sembari beristirahat ditemani semilir angin pegunungan. Nama Gunung Bromo diceritakan penduduk berasal dari kata Brahma. Penduduk asli daerah tersebut adalah Suku Tengger, memeluk Agama Hindu. Gunung setinggi 2.392 meter di atas permukaan laut itu masih berstatus aktif hingga sekarang. Lokasi Bromo masuk dalam empat kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.
Puas menjelajahi Gunung Bromo, perjalanan bisa dilanjutkan ke Air Terjun Madakaripura. Lokasinya tidak jauh dari Gunung Bromo, di Kawasan Tengger, tepatnya di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Madakaripura berada di 620 meter di atas permukaan laut. Dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Patih Gajah Mada, maha patih Kerajaan Majapahit.
Akses jalan menuju air terjun tidak terlalu lebar, tidak bisa dilalui bus besar. Sepanjang perjalanan, pemandangan hijau terus mengikuti. Di antara pepohonan, sering terlihat kotak-kotak tempat lebah. Daerah tersebut memang dikenal sebagai penghasil lebah dari Pohon Randu.
Sesampainya di lokasi, sebelum melanjutkan dengan berjalan kaki, wisatawan akan disambut penjual ponco atau jas hujan tipis untuk menghindari baju basah karena cipratan air. Lainnya menawarkan jasa sebagai pemandu wisata. Perjalanan menuju air terjun sekitar 800 meter. Jalanan menanjak, melewati beberapa lintasan sungai.Sebagian jalan sudah di semen, namun dibagian atas masih harus meleati bebatuan setapak. Harus hati-hati karena licin.
Menyenangkan mendengar air yang mengalir di antara tebingtebing setinggi 200 meter. Bebatuan berlumut menjadi hiasan alam menyejukkan. Air terjun Madakaripura sebaiknya didatangi pada musim kemarau. Di musim penghujan belum tentu bisa melihat secara langsung, karena daerah tersebut rawan longsor.
Untuk menyaksikan Madakaripura, pengunjung wajib membayar retribusi sebesar Rp4.000/orang. Di lokasi parkir kendaraan sudah ada fasilitas WC dan deretan warung-warung kecil untk beristrahat, makan atau sekadar minum kopi dan teh manis hangat.
AKSES
- Gunung Bromo yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang, Probolinggo dan Lumajang, Jawa Timur
- Umumnya, Surabaya menjadi titik point keberangkatan ke Gunung Bromo. Jika naik angkutan umum harus berpindah beberapa kali. Menyewa mobil alternatif yang sangat disarankan.
- Harga sewa kendaraan bervariasi, tergantung jenis mobil. Untuk mobil keluarga sekitar Rp500 ribu, sudah termasuk driver dan BBM.
- Sesungguhnya Gunung Bromo bisa diakses dari beberapa kota di Jawa Timur.
- Ada tiga jalan masuk menuju Bromo. Cemorolawang bisa ditempuh melalui jalur Probolinggo, Desa Ngadas lewat jalur Malang, dan Desa Burno dari Lumajang.
TIPS
- Waktu kunjung terbaik ada di musim kemarau dan menjelang musim hujan.
- Jika ingin menyaksikan upacara tradisional khas Suku Tengger, penduduk asli seputar Bromo, datanglah ketika dilaksanakan Festival Kasada, biasanya sekitar September hingga November. Saat itu Suku Tengger membawa hasil bumi untuk dipersembahkan ke Kawah Bromo.
- Ada satu event lagi di Bromo yang patut ditengok. Jazz Gunung biasanya dilaksanakan Bulan Juni. Pada saat itu bisa dipastikan seluruh penginapan di kawasan Bromo penuh.
- Sebaiknya datang ke kaki Gunung Bromo di pagi atau siang hari, sehingga sempat beradaptasi dan beristirahat sebelum melakukan perjalanan mengejar matahari terbit yang biasanya dimulai pukul 02.00 atau 03.00.
- Jaket, sarung tangan, kaos kaki, syal, wajib dibawa. Suhu di Gunung Bromo dan sekitarnya antara 2 derajat celcius hingga 20 derajat celcius.
- Cukup banyak penjual sarung tangan, syal, dan kupluk di sekitar penginapan. Pandaipandailah menawar. Harga sarung tangan sekitar Rp 10.000 sampai Rp 20.000. Harga kupluk dan syal sekitar Rp 25.000 hingga Rp 50.000.
- Hindari menggunakan celana jins, karena bahan jins menyerap dingin.
- Jangan lupa membawa penutup hidung dan mulut, untuk menghindari pasir-pasir yang beterbangan.
- Di setiap penginapan rata-rata menawarkan jasa penyewaan jeep hardtop. Kendaraan itulah yang bisa melintasi medan di Gunung Bromo. Satu kendaraan bisa muat sekitar 5 orang. Harga sewa antara Rp550.000 hingga Rp700.000.
- Biasanya pembayaran bisa minta tolong diurus oleh supir jeep hardtop.
- Sewa kuda menuju anak tangga kaldera sekitar Rp 100.000 pulang pergi.
- Jangan lupa membawa kamera.
- Persiapkan fisik dengan baik.
- Bawalah obat-obatan pribadi.
- Tidak ada kuliner khas di kawasan Gunung Bromo.
AKOMODASI
Banyak homestay di Cemorolawang. Bisa juga menginap di beberapa kota terdekat seperti Tretes dan Malang.
Cafe Lava Hotel
Cemorolawang
Telp: 0341 541020
Lava View Cottage Bormo
Cemorolawang
Telp: 0341 541147
Hotel Bromo Permai
Cemorolawang
Telp: 0341 54102
Untuk masuk ke Gunung Bromo dikenai biaya retribusi.
Hari biasa:
Wisatawan domestik Rp27.500
Wisatawan asing Rp217.000
Akhir Pekan:
Wisatawan domestik Rp32.500
Wisatawan Asing Rp317.500










