Head Line
Taman Kekuasaan dan Cinta
Menunjungi komplek Keraton Yogyakarta dan Taman Sari ternyata bisa sangat menyenangkan. Menelusuri sejarah, pluralisme, serta kisah kekuasaan dan cinta.
Apa yang bisa dilakukan jika hanya mempunyai waktu satu hari di Yogyakarta? Setelah agak bingung, keputusan pun diambil. Pagi itu sekitar pukul 08.00, diawali dengan kegiatan makan gudeg di Jalan Wijilan, belakang Keraton Yogyakarta. Becak jadi pilihan transportasi.
Usai menikmati gudeg yang sekarang saja sudah menggugah selera hanya dengan mengingat, perjalanan dilanjutkan ke Taman Sari yang lokasinya dekat dengan keraton. Konon, di situlah raja-raja Yogya memilih selir dan bisa memandangi daeah kekuasaan dengan leluasa. Pintu masuk Taman Sari melewati perumahan abdi dalem Keraton Yogtakarta. Ketika membeli tiket, Anda akan disambut pemandu wisatalu khawatir, bebas memilih, apakah akan menggunakan jasa mereka atau tidak.
Selesai mengurus administrasi, jarum jam menunjukkan angka 09.30. Penjelajahan pun dimulai, ditemani salah satu pemandu. Dikisahkan, komplek Taman sari dibangun pada 1958 oleh arsitek berkebangsaan Portugis. Pada 2004, beberapa dilakukanrenovasi dengan bantuan dana dari Portugis. Luas Taman Sari mencapai 15 hektare, namun kini menyusut menjadi 12, 6 hektare. Sebagian dipinjamkan sebagai tempat bermukim masyarakat yang kemudian menjadi abdi dalem setelah terjadi gempa pada 1812.
Perjalanan menuju bagian dalam Taman Sari melewati gapura yang mengandung simbol pembangunan Taman Sari, yakni 1765 penanggalan Jawa dan 1758 hitungan masehi. Lewat gapura ada empat bangunan terbuka plus pelataran yang digunakan untuk pentas tarian yang digelar selepas Sultan mandi bersama selir pilihan.
Terbayang merdunya suara gamelan, karena entah bagaimana, bangunan terbuka tempat bermain gamelan bisa memantulkan suara. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju pemandian para selir. Terpampang tiga kolam berhias payung yang melambangkan pengayoman raja pada para penghuni keraton. Ada tiga kolam yang terlihat. Pertama untuk putra-putri raja, kolam kedua untuk para selir, dan ketiga untuk raja dan selir yang saat itu terpilih. Di setiap sudut pemandian ada bangunan berbentuk kotak cukup besar yang dikhususkan untuk membakar wewangian. Dalam istilah sekarang disebut aromaterapi.
Pemilihan selir menurut penjelasan pemandu wisata, dilakukan dengan cara melempar bunga dari atas menara yang memisahkan dua kolah pertama dan kolam pribadi sultan. Selir yang memperoleh bunga berarti mendapat giliran menemani raja. Cara itu konon dilakukan untuk keadilan dan menghindari kecemburuan para selir yang biasanya diambil dari abdi dalam, untuk mengangkat derajat mereka menjadi bangsawan.
Nah, selir yang terpilih diajak masuk ke pemandian pribadi yang dilengkapi dengan ruang ganti sendiri, pun satu ranjang besar yang unik. Di bawah ranjang terdapat fasilitas penghangat dengan menambah bara saat udara dingin. Jika tidak, bisa digunakan untuk menguarkan wewangian.
Usai ritual bersama selir itulah, raja menyaksikan tari-tarian, sebelum akhirya pergi ke Pulau Kenanga untuk melihat daerah kekuasaannya dari puncak tertinggi. Mengapa disebut pulau? Karena memang zaman dulu Pulau
Kenanga dikeliling Air yang dialirkan dari Kali Code. Aliran air yang tingginya hanya setengah meter itu sengaja dibuat sebagai salah satu wujud pertahanan dari serangan musuh. Itu sebabnya, Pulau Kenanga kerap disebut juga Istana Air. Ketebalan dinding bangunan di Pulau Kenanga sungguh luar biasa, mencapai satu meter. Bangunan di pulau itu, pada zaman dulu digunakan untuk menginap para tamu. Sisi lain menjadi tempat para abdi dalam membuat batik untuk keraton. Pada zaman itu, Sri Sultan kerap berperahu menuju Pulau Kenanga, menyaksikan Yogyakarta dari ketinggian. Reruntuhan bangunan di Pulau Kenangan dijamin memesona. Banyak wisatawan yang datang. Pun muda-mudi yang sekadar ingin menikmati pemandangan dan berfoto ria. Tempat itu juga kerap menjadi lokasi pemotretan pra pernikahan.
Sebelum ke Pulau Kenanga, ada satu tempat yang juga membuat saya terpesona. Dari Taman Sari melewati lorong perkampungan, tibalah di masjid bawah tanah yang tidak lagi digunakan. Saat menuruni tangga, tersa aliran angin sejuk. Arsitektur bangunan itu memang sangat memperhitungkan ventilasi. Selain itu, dibuat sedemikian rupa hingga saat orang berbicara atau bertepuk tangan langsung bergema. Bayangkan, bagaimana indahnya saat suara azan dikumandangkan di ruangan ini. Bangunan masjid kuno itu berbentuk bundar dan terdiri dari dua lantai. Jemaah perempuan melingkar dengan iman sendiri yang posisinya menjorok ke dalam
bangunan. Demikian juga tempat untuk laki-laki. Di tengah lingkaran terdapat kolam untuk mengambil air wudhu. bentuknya bulat, lebih rendah dari lantai pertama, dikeliling lima tangga yang melambangkan lima rukun Islam.
Di salah satu sudut bangunan terdapat satu tempat yang tertutup bata telanjang. Kabarnya, lorong tersebut bisa langsung tembus ke pemandian Taman Sari dan Keraton. Namun, ada juga yang mengatakan, lorong itu bisa langsung membawa ke pantai selatan, saat Sri Sultan bertemu dengan Nyi Roro Kidul. Kebenarannya? entahlah! Tapi yang jelas perjalanan keliling kompleks Taman Sari menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Kala itu, jarum jam sudah menunjukkan angka 11.30.













